Dalam bahasa Indonesia, kata “terserah” bisa terdengar netral, tapi juga bisa terasa dingin atau jutek tergantung situasi. Hal yang sama—bahkan lebih sensitif—juga terjadi dalam bahasa Jepang. Salah pilih kata, niatnya cuma fleksibel, tapi yang tertangkap justru kesan tidak peduli atau ogah-ogahan.
Orang Jepang cenderung menghindari ungkapan yang terdengar terlalu lepas tangan. Karena itu, ada beberapa cara mengatakan “terserah” yang lebih halus, aman, dan tetap terdengar sopan. Berikut ungkapan-ungkapan yang biasa dipakai dalam situasi sehari-hari.
「どちらでもいいです」
Dochira demo ii desu
Ungkapan ini bisa dibilang versi paling aman dari “terserah”.
Artinya kurang lebih, “yang mana saja tidak masalah.” Nuansanya netral dan sopan, cocok dipakai saat memilih menu, jadwal, atau keputusan ringan lainnya. Kalimat ini menunjukkan fleksibilitas tanpa terkesan malas mengambil keputusan.
「お任せします」
Omakase shimasu
Kalau kamu ingin menunjukkan kepercayaan pada lawan bicara, ungkapan ini sangat sering dipakai.
Artinya “saya serahkan (keputusan) kepada Anda.” Bukan berarti tidak peduli, tapi justru menunjukkan rasa percaya. Ungkapan ini umum digunakan di tempat kerja, restoran, atau situasi semi-formal.
「どれでも大丈夫です」
Dore demo daijoubu desu
Kalimat ini menunjukkan fleksibilitas dengan kesan yang lebih ramah.
Dibanding “terserah”, ungkapan ini terasa lebih positif karena mengandung kata daijoubu (tidak masalah). Sangat umum dipakai dalam percakapan sehari-hari, baik dengan teman maupun orang yang baru dikenal.
「決めてもらってもいいですか」
Kimete moratte mo ii desu ka
Kalau kamu ingin tetap sopan dan melibatkan lawan bicara, ini pilihan yang aman.
Alih-alih langsung bilang “terserah”, kamu meminta orang lain untuk memutuskan. Nada kalimatnya halus dan menunjukkan sikap kooperatif, bukan pasif.
Ungkapan yang Sebaiknya Dihindari
「どうでもいい」
Dou demo ii
Walaupun sering diterjemahkan sebagai “terserah”, ungkapan ini bisa terdengar kasar. Nuansanya lebih ke “nggak peduli sama sekali” dan berisiko membuat lawan bicara merasa tidak dihargai, apalagi jika diucapkan dengan nada datar.
Dalam budaya Jepang, menjaga perasaan orang lain adalah hal penting. Mengatakan “terserah” secara langsung bisa dianggap melepaskan tanggung jawab atau tidak mau terlibat dalam keputusan. Karena itu, orang Jepang lebih memilih ungkapan yang menunjukkan fleksibilitas, kerja sama, dan empati.
Bukan berarti mereka tidak punya pendapat, tapi cara menyampaikannya dibuat lebih halus agar suasana tetap nyaman.
Pada akhirnya, mengatakan “terserah” dalam bahasa Jepang bukan soal menerjemahkan kata, tapi memahami nuansanya. Dengan memilih ungkapan yang tepat, kamu bisa terdengar lebih sopan, dewasa, dan natural di telinga orang Jepang. Fleksibel boleh, tapi tetap berkesan peduli—itulah kunci komunikasi ala Jepang.










