Di era ponsel berkamera dan media sosial, mengambil foto di ruang publik terasa wajar. Namun di Jepang, ada batas tak tertulis yang sangat dijaga: tidak memotret orang lain tanpa izin, meski berada di tempat umum dan meski hanya “sekadar lewat”.
Bagi orang asing, sikap ini sering terasa berlebihan. Tapi bagi masyarakat Jepang, ini soal menghormati privasi.
Ruang Publik Bukan Ruang Bebas Privasi
Di Jepang, berada di tempat umum tidak otomatis berarti siap difoto. Wajah, ekspresi, dan keberadaan seseorang tetap dianggap sebagai bagian dari ranah pribadi. Karena itu, memotret orang asing—apalagi close-up—tanpa izin bisa dianggap tidak sopan.
Prinsipnya sederhana: orang lain bukan objek visual.
Privasi Lebih Penting daripada Konten
Budaya ini makin terasa di tengah maraknya media sosial. Banyak orang Jepang memilih:
-
Menyensor wajah orang lain
-
Mengambil foto dari belakang
-
Menghindari sudut yang memperlihatkan identitas
Bukan karena takut aturan, melainkan karena ada kesadaran bahwa konten tidak boleh mengorbankan kenyamanan orang lain.
Pengalaman Pribadi Tidak Selalu Perlu Dipublikasikan
Di Jepang, momen pribadi sering dianggap cukup untuk dinikmati sendiri. Tidak semua pengalaman perlu dibagikan. Cara pandang ini membuat orang lebih berhati-hati saat mengangkat kamera, terutama jika melibatkan orang yang tidak dikenal.
Mengabadikan suasana, bukan individu, lebih diterima secara sosial.
Aturan Tertulis yang Menguatkan Norma
Selain norma sosial, beberapa tempat seperti stasiun, sekolah, atau fasilitas umum memiliki larangan jelas soal fotografi. Namun yang paling efektif tetaplah kesadaran bersama. Banyak orang tetap menahan diri meski tidak ada larangan tertulis.
Ini menunjukkan bahwa etika sering berjalan lebih kuat daripada aturan formal.
Bagi Orang Asing: Kesopanan Lebih Diapresiasi
Bagi pendatang atau wisatawan, meminta izin sebelum memotret sering mendapat respons positif. Bahkan jika izin ditolak, sikap sopan tersebut sudah dianggap menghargai budaya setempat.
Di Jepang, niat baik dan kehati-hatian sering lebih dihargai daripada hasil foto itu sendiri.
Budaya tidak mengambil foto orang asing sembarangan di Jepang mencerminkan satu hal penting: menghormati batas orang lain. Di tengah dunia yang semakin terbuka, Jepang memilih menjaga jarak yang sehat antara ruang publik dan privasi pribadi.
Mungkin inilah pengingat bahwa tidak semua hal yang bisa direkam, memang pantas untuk direkam.










