Menu

Dark Mode
JR East Perkenalkan Kereta Inspeksi Shinkansen Baru, Bisa Melaju 320 Km/Jam Pohon Tumbang Saat Turnamen Sepak Bola Anak di Jepang, 7 Orang Terluka Fajar/Fikri Sabet Gelar Juara Usai Kalahkan Ganda Putra No.1 Dunia di Japan Open 2026 Dua Warga Vietnam Jadi Sopir Bus Asing Pertama di Shikoku, Jepang Distrik di Tokyo Pasang Kamera AI Pengenal Wajah untuk Cari Anak dan Lansia Hilang, Picu Kekhawatiran Privasi Populasi Rusa di Taman Nara Pecahkan Rekor, Wisatawan Diminta Jangan Sembarangan Memberi Makan

News

China Hentikan Ekspor Mineral Strategis ke Jepang di Tengah Memanasnya Hubungan Diplomatik

badge-check


					China Hentikan Ekspor Mineral Strategis ke Jepang di Tengah Memanasnya Hubungan Diplomatik Perbesar

China menghentikan ekspor berbagai mineral strategis, termasuk rare earth (logam tanah jarang) dan rare metal, ke Jepang. Langkah ini terutama menyasar material yang berkaitan dengan industri pertahanan dan dinilai sebagai bentuk tekanan ekonomi di tengah memanasnya hubungan diplomatik kedua negara.

Berdasarkan data perdagangan terbaru China, penghentian ekspor ini terjadi setelah Beijing dalam beberapa tahun terakhir memperketat kontrol ekspor terhadap sedikitnya 16 jenis mineral di tengah konflik dagangnya dengan Amerika Serikat.

Pada 6 Januari, China juga memperketat pembatasan ekspor barang dual-use ke Jepang, yaitu barang, perangkat lunak, atau teknologi yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer. Kebijakan itu diambil setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November tahun lalu menyampaikan pernyataan di parlemen mengenai kemungkinan situasi darurat di Taiwan.

Dari 16 jenis mineral tersebut, terdapat tujuh jenis logam tanah jarang yang digunakan untuk memproduksi kendaraan listrik, perangkat berteknologi tinggi, hingga persenjataan. China sendiri merupakan pemasok utama logam tanah jarang di dunia.

Sejak Januari, China tidak lagi mengekspor dysprosium dan terbium ke Jepang, dua unsur yang dibutuhkan untuk memproduksi magnet permanen berkinerja tinggi. Ekspor yttrium dan scandium yang digunakan dalam industri kedirgantaraan juga dihentikan untuk produk yang tidak dicampur atau dipadukan dengan logam lain.

Sementara itu, volume ekspor magnet logam tanah jarang dari China ke Jepang turun tajam. Pada Mei, volumenya tercatat turun 35 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain logam tanah jarang, China juga menghentikan ekspor bubuk molibdenum ke Jepang sejak Januari. Material tersebut digunakan dalam pembuatan komponen rudal. Sejak Februari, Beijing juga menghentikan pengiriman beberapa produk tungsten, sedangkan sebagian produk gallium tidak diekspor selama periode Januari hingga April.

Untuk timbal antimoni, yang digunakan dalam pembuatan amunisi dan suku cadang kendaraan, China hampir sepenuhnya menghentikan ekspornya ke Jepang, kecuali pada Februari. Sementara itu, ekspor germanium dan grafit tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan Jepang terus berupaya mendiversifikasi rantai pasok mereka. Namun pada Mei lalu, otoritas China menahan dua karyawan grup Fuji Electric atas dugaan berusaha membawa produk terkait logam tanah jarang ke luar negeri.

Pada akhir Juni, China juga memasukkan 20 organisasi Jepang, termasuk National Institute for Defense Studies dan sejumlah anak perusahaan Mitsubishi Electric, ke dalam daftar entitas yang dilarang menerima barang dual-use. Dengan penambahan tersebut, total organisasi Jepang yang masuk daftar larangan mencapai 40 entitas.

Hubungan Jepang dan China terus memburuk dalam beberapa waktu terakhir setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan bahwa serangan China terhadap Taiwan dapat memicu respons dari Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) untuk mendukung Amerika Serikat.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

JR East Perkenalkan Kereta Inspeksi Shinkansen Baru, Bisa Melaju 320 Km/Jam

20 July 2026 - 14:10 WIB

Pohon Tumbang Saat Turnamen Sepak Bola Anak di Jepang, 7 Orang Terluka

20 July 2026 - 10:50 WIB

Fajar/Fikri Sabet Gelar Juara Usai Kalahkan Ganda Putra No.1 Dunia di Japan Open 2026

20 July 2026 - 10:48 WIB

Dua Warga Vietnam Jadi Sopir Bus Asing Pertama di Shikoku, Jepang

20 July 2026 - 10:43 WIB

Distrik di Tokyo Pasang Kamera AI Pengenal Wajah untuk Cari Anak dan Lansia Hilang, Picu Kekhawatiran Privasi

18 July 2026 - 12:10 WIB

Trending on News