Jumlah angkatan kerja Jepang mencapai rekor tertinggi 70,04 juta orang pada 2025, didorong oleh meningkatnya partisipasi lansia, perempuan, dan warga negara asing, menurut survei Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang.
Ini menjadi pertama kalinya jumlah angkatan kerja—yang didefinisikan sebagai penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bersedia bekerja—melampaui angka 70 juta sejak data pembanding mulai tersedia pada 1953. Angka tersebut mencakup pekerja yang sudah bekerja maupun pengangguran yang sedang mencari pekerjaan.
Survei Angkatan Kerja yang dirilis pada 30 Januari menunjukkan bahwa 63,8 persen penduduk usia 15 tahun ke atas termasuk dalam angkatan kerja, juga merupakan rekor tertinggi. Sementara itu, jumlah penduduk yang benar-benar bekerja mencapai 68,28 juta orang, tertinggi sepanjang sejarah.
Meskipun populasi usia produktif (15–64 tahun) terus menurun akibat rendahnya angka kelahiran, jumlah angkatan kerja Jepang justru meningkat sejak 2012, ketika tercatat 65,65 juta orang.
Partisipasi Lansia Terus Naik
Kelompok lansia menjadi salah satu pendorong utama. Pada 2025, 26,5 persen penduduk berusia 65 tahun ke atas tercatat sebagai bagian dari angkatan kerja, naik 0,4 poin persentase dibanding tahun sebelumnya. Tingkat pekerjaannya mencapai 26,0 persen, yang berarti sekitar satu dari empat lansia di Jepang masih bekerja.
Peningkatan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan perusahaan menyediakan kesempatan kerja hingga usia 65 tahun dan mendorong pemberian pekerjaan hingga usia 70 tahun. Sejumlah perusahaan bahkan mulai menaikkan usia pensiun atau memperbaiki kondisi kerja bagi pekerja lanjut usia.
Lebih Banyak Perempuan Bekerja
Jumlah perempuan yang bekerja juga meningkat. Sekitar 32 juta perempuan tercatat bekerja pada 2025, naik 430.000 orang dibanding tahun sebelumnya.
Fenomena kurva M—penurunan partisipasi kerja perempuan di usia 30-an dan 40-an akibat pernikahan dan pengasuhan anak—terus menunjukkan tanda-tanda melandai. Perubahan sistem kerja, reformasi lingkungan kerja, serta berkurangnya model keluarga dengan satu pencari nafkah laki-laki turut mendorong tren ini.
Jam Kerja Jadi Tantangan
Meski jumlah pekerja meningkat, jam kerja rata-rata cenderung lebih pendek, terutama di kalangan lansia dan perempuan. Laporan Persol Research and Consulting pada Oktober 2024 memperkirakan jam kerja tahunan per orang akan turun dari 1.850 jam pada 2023 menjadi 1.687 jam pada 2035.
Penurunan ini diperkirakan akan menciptakan kekurangan 17,75 juta jam kerja per hari, setara dengan 3,84 juta pekerja. Jika tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas, kondisi ini berpotensi melemahkan daya saing ekonomi Jepang. Investasi di bidang pendidikan dan pemanfaatan kecerdasan buatan disebut sebagai solusi penting.
Pekerja Asing Capai Rekor
Selain lansia dan perempuan, pekerja asing juga berkontribusi besar. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan jumlah pekerja asing di Jepang mencapai 2.571.037 orang pada akhir Oktober 2025, naik 268.450 dari tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah.
Sc : Asahi







