Pimpinan operator Bandara Narita International Airport bertemu dengan menteri transportasi Jepang pada hari Kamis untuk menyampaikan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan memulai proses pengadaan lahan secara paksa guna melanjutkan rencana pembangunan landasan pacu baru dan perpanjangan landasan yang sudah ada. Langkah ini diambil di tengah lonjakan wisatawan asing ke Jepang.
Naoki Fujii, presiden Narita International Airport Corporation, juga mengatakan kepada Yasushi Kaneko bahwa target pembukaan landasan baru dan perpanjangan yang direncanakan pada Maret 2029 kemungkinan akan tertunda karena kesulitan dalam pembebasan lahan.
Pengadaan lahan untuk proyek ekspansi yang dijuluki sebagai “pembukaan kedua” bandara ini telah mencapai 89,7% dari total 1.099 hektare yang dibutuhkan hingga akhir Maret. Namun, sebagian pemilik lahan yang tersisa masih belum puas dengan nilai kompensasi yang ditawarkan.
Kaneko menyatakan memahami kemungkinan penggunaan undang-undang pengambilalihan lahan. Meski begitu, ia menekankan agar perusahaan tetap berupaya mendapatkan persetujuan warga secara hati-hati dan melanjutkan pendekatan sukarela.
Pembangunan landasan pacu C sepanjang 3.500 meter serta perpanjangan landasan pacu B dari 2.500 meter menjadi lebih panjang 1.000 meter telah dimulai sejak 2025 di Prefektur Chiba Prefecture. Proyek ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah wisatawan asing dan kebutuhan logistik.
Setelah selesai, luas bandara diperkirakan hampir dua kali lipat menjadi 2.297 hektare, dengan kapasitas penerbangan tahunan meningkat dari 340.000 menjadi sekitar 500.000 pergerakan pesawat.
Fujii berharap landasan pacu B yang telah diperpanjang dapat mulai beroperasi lebih dulu pada tahun fiskal 2029, jika seluruh lahan yang diperlukan berhasil diperoleh.
Bandara internasional ini sendiri mulai beroperasi pada tahun 1978, meskipun sebelumnya menghadapi penolakan keras dari warga terkait pembebasan lahan, setelah pemerintah pusat menyetujui pembangunannya pada Juli 1966.
Sc : JT








