Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang kembali menggelar Asia Zero Emission Community–Expert Group Meeting (AZEC-EGM) ke-9 pada Senin, 26 Januari 2026. Pertemuan ini menjadi bagian dari kelanjutan kerja sama dekarbonisasi negara-negara Asia yang bertujuan mencapai emisi nol bersih.
AZEC sendiri diluncurkan pada sela-sela KTT G20 Indonesia tahun 2022 sebagai wadah kerja sama regional di bidang transisi energi. Pertemuan ke-9 ini difokuskan pada upaya mengatasi berbagai hambatan teknis dan bisnis (debottlenecking) dalam proyek-proyek prioritas AZEC.
Pembahasan dibagi ke dalam dua sesi utama. Sesi pertama membahas sektor ketenagalistrikan, meliputi rencana ekspansi PLTP Sarulla, PLTP Hululais, proyek transmisi listrik Jawa–Sumatera, serta Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka.
Sesi kedua membahas sektor bahan bakar berkelanjutan dan sektor lainnya, termasuk perkembangan inisiatif amonia hijau di Aceh serta usulan Indonesia terkait penyusunan template studi bersama Power Purchase Agreement (PPA).
Beberapa proyek yang dibahas menunjukkan kemajuan signifikan. Proyek PLTSa Legok Nangka dengan nilai investasi sekitar 400 juta dolar AS diperkirakan mencapai tahap kesepakatan pendanaan (financial close) pada akhir 2026. Sementara itu, PLTP Hululais telah mencapai titik terang melalui perjanjian pinjaman dengan JICA, sehingga proses pengadaan diharapkan segera dimulai.
Proyek transmisi listrik Jawa–Sumatera menjadi salah satu fokus utama karena dinilai strategis bagi ketahanan energi nasional. Proyek ini akan menghubungkan potensi energi terbarukan di Sumatera, seperti panas bumi dan tenaga air, dengan Pulau Jawa yang memiliki kebutuhan listrik tinggi. Indonesia dan Jepang sepakat mendorong percepatan penyelesaian survei teknis dan kajian bisnis proyek tersebut.
Pada sesi kedua, pertemuan juga menyoroti Green Ammonia Initiative di Aceh sebagai langkah memperkuat rantai pasok amonia nasional sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi global. Selain itu, usulan Indonesia mengenai riset bersama untuk pengembangan template PPA geothermal mendapat sambutan positif. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kepastian usaha, mengurangi risiko, dan mempercepat negosiasi antara pengembang listrik dan PT PLN (Persero). Keberhasilan debottlenecking proyek PLTP Muara Laboh pada 2025 dijadikan referensi dalam pengembangan template tersebut.
Deputy Commissioner for International Affairs Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), Ueno Asako, berharap enam proyek prioritas AZEC dapat menunjukkan kemajuan nyata sebelum berakhirnya tahun fiskal Jepang pada Maret 2026.
Sementara itu, Ketua Kelompok Ahli Satgas AZEC sekaligus Ketua Delegasi Indonesia Raden Pardede menegaskan bahwa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian, lembaga, BUMN, serta pemerintah daerah untuk mempercepat realisasi proyek-proyek tersebut.
Pertemuan ini turut dihadiri perwakilan dari Kementerian ESDM, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan, KBRI Tokyo, serta lembaga internasional seperti JICA dan JBIC. Dari sektor korporasi, hadir perwakilan PT PLN, PT Pupuk Indonesia, serta sejumlah perusahaan Jepang, termasuk Itochu Corporation, Kansai Electric, Sumitomo Corporation, dan Toyo Engineering.
Sc : Ekon








