Badan Kepolisian Nasional Jepang (NPA) pada Kamis (18/9) melaporkan bahwa jumlah kasus phishing di negara itu mencapai rekor baru dengan 1,2 juta laporan hanya dalam enam bulan pertama 2025. Angka ini menempatkan Jepang di jalur untuk melampaui rekor tahunan sebelumnya pada 2024 yang mencatat 1,71 juta kasus. Sebagai perbandingan, pada 2019 jumlah laporan hanya sekitar 55 ribu kasus.
Sebagian besar laporan berkaitan dengan email yang mengarahkan penerima ke situs web palsu yang menyerupai perusahaan atau bank resmi, tempat data pribadi korban kemudian dicuri.
Dalam periode Januari–Juni 2025, kerugian dari penipuan transfer perbankan online tercatat sekitar 4,22 miliar yen (sekitar Rp 440 miliar).
NPA juga mencatat peningkatan pesat dalam “voice phishing,” yaitu modus penipuan melalui telepon untuk menggali informasi pribadi. Sejak musim gugur lalu, metode ini semakin marak dan kerap menargetkan akun sekuritas. Jumlah email phishing yang mengatasnamakan perusahaan sekuritas melonjak drastis dari hanya 104 kasus pada Januari menjadi 73.857 kasus pada Mei. Nilai saham dan produk keuangan lain yang diperdagangkan secara ilegal melalui akun-akun korban juga melesat dari 280 juta yen pada Januari menjadi sekitar 292 miliar yen pada April.
Sementara itu, kasus serangan ransomware juga tetap menjadi ancaman serius. Dalam enam bulan pertama 2025, tercatat 116 insiden di 30 prefektur, menyamai rekor setengah tahun yang terjadi pada akhir 2022. Serangan ini melibatkan virus yang menyusup ke server perusahaan dan membuat data penting tidak bisa diakses hingga tebusan dibayarkan kepada pelaku.
Sc : mainichi







