Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya mengatakan pada Jumat (4/10) bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan kenaikan biaya visa bagi pengunjung asing, karena tarif yang berlaku saat ini dinilai masih terlalu rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
Dalam konferensi pers, Iwaya mengonfirmasi bahwa peninjauan tarif visa sedang dilakukan, menanggapi laporan bahwa Jepang berencana menaikkan biaya tersebut hingga setara dengan standar AS dan Eropa, paling cepat pada tahun fiskal 2026.
“Rinciannya belum diputuskan, tetapi kami sedang mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk dampaknya terhadap sektor pariwisata masuk (inbound tourism),” ujar Iwaya. “Kami juga akan membandingkan dengan biaya di negara lain. Saya percaya biaya visa Jepang saat ini memang cukup rendah.”
Menurut data pemerintah yang dirilis Rabu lalu, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang mencapai sekitar 31,65 juta orang pada periode Januari–September 2025, naik 17,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat untuk menembus 30 juta kunjungan dalam satu tahun.
Dengan tren tersebut, jumlah pengunjung sepanjang tahun ini dipastikan melampaui rekor 36,87 juta wisatawan pada 2024, dan bahkan berpotensi mencapai 40 juta, didorong oleh melemahnya nilai yen serta lonjakan wisatawan asal Tiongkok.
Menanggapi isu overtourism — fenomena pariwisata berlebihan yang menyebabkan keramaian dan kerusakan lingkungan di beberapa lokasi populer, Iwaya mengatakan pemerintah akan menilai dampak kebijakan baru ini lebih lanjut.
“Namun secara pribadi, saya tidak berpikir kenaikan biaya visa ini akan berdampak langsung terhadap overtourism,” katanya.
Jika kebijakan tersebut diterapkan, ini akan menjadi kenaikan biaya visa pertama Jepang dalam beberapa tahun terakhir, di tengah upaya pemerintah untuk menyeimbangkan pertumbuhan pariwisata dengan keberlanjutan ekonomi dan sosial.
Sc : JT







