Jepang pada hari Rabu meluncurkan sistem “blue ticket” yang memungkinkan polisi menindak pelanggaran bersepeda seperti menggunakan ponsel saat berkendara, seiring upaya negara tersebut memperketat aturan demi menekan angka kecelakaan di tengah meningkatnya penggunaan sepeda.
Sistem ini merupakan bagian dari revisi Undang-Undang Lalu Lintas Jalan dan menargetkan total 113 jenis pelanggaran ringan dengan denda hingga 12.000 yen (sekitar Rp 1,4 juta). Pelanggaran tersebut mencakup menerobos lampu merah, mengabaikan rambu berhenti, memasuki perlintasan kereta yang tertutup, hingga bersepeda di trotoar. Aturan ini berlaku bagi individu berusia 16 tahun ke atas.
Dalam aturan baru ini, polisi dapat langsung memberikan denda tanpa peringatan tertulis maupun lisan untuk pelanggaran yang berisiko tinggi menyebabkan kecelakaan.
Denda maksimum sebesar 12.000 yen dikenakan untuk pelanggaran “distracted cycling” atau berkendara sambil terdistraksi, yang mencakup tidak hanya menelepon saat bersepeda, tetapi juga menatap layar ponsel yang dipasang di sepeda.
Pelanggaran lain yang bisa langsung didenda tanpa peringatan antara lain memasuki perlintasan kereta saat palang sudah tertutup (denda 7.000 yen), serta mengendarai sepeda tanpa rem seperti fixed-gear (denda 5.000 yen).
Untuk pelanggaran lainnya, umumnya akan diberikan peringatan terlebih dahulu, kecuali jika pelanggaran tersebut tergolong serius.
Bersepeda di trotoar dapat dikenakan denda 6.000 yen, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti memang diperbolehkan atau jika jalan raya berbahaya untuk sepeda. Bersepeda sambil memegang payung atau memakai earphone yang menghalangi suara sekitar juga dapat dikenakan denda sebesar 5.000 yen.
Untuk 24 pelanggaran yang lebih serius, seperti berkendara dalam keadaan mabuk berat atau secara ugal-ugalan, pengendara sepeda akan dikenakan “tiket merah” yang dapat berujung pada penyelidikan dan proses hukum pidana.
Selain itu, pelanggaran “distracted cycling” juga bisa berujung tiket merah jika menyebabkan situasi lalu lintas yang berbahaya.
Pandemi COVID-19 telah meningkatkan popularitas sepeda sebagai alat transportasi, sehingga pemerintah Jepang terus mengambil langkah untuk mengurangi kecelakaan yang melibatkan sepeda.
Sc : mainichi








