Menu

Dark Mode
Resident Evil 2, 3, dan 4 Remake Akan Hadir di Switch 2 Oktober Jepang Pertimbangkan Buka Lapangan Kerja Satpam bagi Pekerja Asing Mulai 2027 Lebih dari 30% Anak Muda Jepang Tak Ingin Punya Anak, Tertinggi dalam 20 Tahun China Naikkan Biaya Visa untuk Warga Jepang hingga 7 Kali Lipat JSDF Kerahkan Personel dan 3 Helikopter untuk Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan Zelda: Ocarina of Time Remake untuk Switch 2 Rilis November 2026

News

Jumlah Akiya di Jepang Terus Bertambah, Keluarga Mulai Pusing Mengurus Rumah Warisan

badge-check


					Jumlah Akiya di Jepang Terus Bertambah, Keluarga Mulai Pusing Mengurus Rumah Warisan Perbesar

Semakin banyak keluarga di Jepang yang harus menghadapi persoalan rumah peninggalan orang tua yang kosong setelah pemiliknya meninggal dunia atau pindah ke fasilitas perawatan. Kondisi ini membuat istilah jikka-jimai (実家じまい), yaitu proses mengurus dan melepaskan rumah keluarga, semakin mendapat perhatian.

Mengelola rumah kosong tidak mudah. Selain biaya perawatan yang cukup besar, rumah yang terbengkalai dapat menimbulkan masalah bagi tetangga, seperti risiko kebakaran, kerusakan bangunan, hingga mengganggu lingkungan sekitar.

Salah satu contohnya dialami pria berusia 69 tahun dari Yokohama. Ibunya meninggal empat tahun lalu dan meninggalkan rumah berusia 127 tahun di Izumo, Prefektur Shimane. Karena tinggal jauh dari rumah tersebut, ia kesulitan merawatnya. Warga sekitar bahkan memintanya memperbaiki bagian luar rumah yang sudah mengelupas karena dianggap membahayakan.

Ketika mencari jasa pembongkaran, ia mendapat perkiraan biaya setidaknya ¥3 juta. Menjual rumah juga dianggap sulit oleh agen properti setempat.

Ia kemudian berkonsultasi dengan perusahaan pengelola rumah kosong. Rumah tersebut akhirnya dijual hanya dengan harga ¥200.000 kepada pembeli yang tertarik karena lokasinya dekat laut. Meski tetap ada biaya untuk mengosongkan barang-barang dan mengurus perpindahan kepemilikan, total pengeluarannya ternyata lebih rendah dibandingkan membongkar rumah.

Fenomena ini semakin serius. Berdasarkan survei Kementerian Dalam Negeri Jepang, jumlah rumah kosong mencapai 9,002 juta unit pada 2023, meningkat sekitar 513.000 unit dibandingkan 2018.

Survei lain menunjukkan 50,9% orang yang tinggal terpisah dari orang tuanya merasa khawatir rumah keluarga mereka nantinya menjadi kosong. Namun, 70,5% mengaku belum melakukan persiapan apa pun.

Masalahnya bukan hanya soal biaya. Ketika keluarga memutuskan untuk menjual atau membongkar rumah, perselisihan antar saudara juga bisa muncul. Ada yang ingin mempertahankan rumah karena kenangan keluarga, sementara yang lain ingin segera melepasnya karena biaya perawatan.

Karena itu, para ahli menyarankan agar keluarga membicarakan nasib rumah sejak orang tua masih hidup, termasuk siapa yang akan mengurusnya, apakah akan dijual atau dibongkar, serta bagaimana biaya dan kepemilikannya akan ditangani.

Jikka-jimai pun kini menjadi salah satu persoalan yang semakin umum di Jepang seiring bertambahnya rumah kosong dan menurunnya jumlah penduduk di berbagai daerah.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Pertimbangkan Buka Lapangan Kerja Satpam bagi Pekerja Asing Mulai 2027

12 September 2026 - 12:10 WIB

Lebih dari 30% Anak Muda Jepang Tak Ingin Punya Anak, Tertinggi dalam 20 Tahun

12 September 2026 - 10:10 WIB

China Naikkan Biaya Visa untuk Warga Jepang hingga 7 Kali Lipat

12 September 2026 - 07:00 WIB

JSDF Kerahkan Personel dan 3 Helikopter untuk Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan

11 September 2026 - 13:35 WIB

Godzilla Minus Zero Rilis November, Jadi Film Jepang Pertama yang “Filmed for IMAX

10 September 2026 - 12:10 WIB

Trending on News