Menu ✖

Dark Mode
Game XR Pertama Evangelion Resmi Diumumkan, Hadirkan Petualangan Baru dalam Trilogi VR dan Mixed Reality Jepang Keluar dari 10 Besar Destinasi Favorit Wisatawan China di Tengah Memburuknya Hubungan Bilateral Badan Imigrasi Jepang Umumkan Revisi Pedoman Pemberian Status Permanent Resident Mulai Berlaku April 2027 Universal Studios Japan Umumkan Kolaborasi Sailor Moon untuk Universal Cool Japan 2027 Gelombang Kenaikan Harga Kembali Melanda Jepang, Lebih dari 3.100 Produk Makanan dan Minuman Naik pada Oktober Masjid di Okayama Jepang Resmi Jadi Tempat Pengungsian Saat Bencana

News

Jumlah Akiya di Jepang Terus Bertambah, Keluarga Mulai Pusing Mengurus Rumah Warisan

badge-check


					Jumlah Akiya di Jepang Terus Bertambah, Keluarga Mulai Pusing Mengurus Rumah Warisan Perbesar

Semakin banyak keluarga di Jepang yang harus menghadapi persoalan rumah peninggalan orang tua yang kosong setelah pemiliknya meninggal dunia atau pindah ke fasilitas perawatan. Kondisi ini membuat istilah jikka-jimai (実家じまい), yaitu proses mengurus dan melepaskan rumah keluarga, semakin mendapat perhatian.

Mengelola rumah kosong tidak mudah. Selain biaya perawatan yang cukup besar, rumah yang terbengkalai dapat menimbulkan masalah bagi tetangga, seperti risiko kebakaran, kerusakan bangunan, hingga mengganggu lingkungan sekitar.

Salah satu contohnya dialami pria berusia 69 tahun dari Yokohama. Ibunya meninggal empat tahun lalu dan meninggalkan rumah berusia 127 tahun di Izumo, Prefektur Shimane. Karena tinggal jauh dari rumah tersebut, ia kesulitan merawatnya. Warga sekitar bahkan memintanya memperbaiki bagian luar rumah yang sudah mengelupas karena dianggap membahayakan.

Ketika mencari jasa pembongkaran, ia mendapat perkiraan biaya setidaknya ¥3 juta. Menjual rumah juga dianggap sulit oleh agen properti setempat.

Ia kemudian berkonsultasi dengan perusahaan pengelola rumah kosong. Rumah tersebut akhirnya dijual hanya dengan harga ¥200.000 kepada pembeli yang tertarik karena lokasinya dekat laut. Meski tetap ada biaya untuk mengosongkan barang-barang dan mengurus perpindahan kepemilikan, total pengeluarannya ternyata lebih rendah dibandingkan membongkar rumah.

Fenomena ini semakin serius. Berdasarkan survei Kementerian Dalam Negeri Jepang, jumlah rumah kosong mencapai 9,002 juta unit pada 2023, meningkat sekitar 513.000 unit dibandingkan 2018.

Survei lain menunjukkan 50,9% orang yang tinggal terpisah dari orang tuanya merasa khawatir rumah keluarga mereka nantinya menjadi kosong. Namun, 70,5% mengaku belum melakukan persiapan apa pun.

Masalahnya bukan hanya soal biaya. Ketika keluarga memutuskan untuk menjual atau membongkar rumah, perselisihan antar saudara juga bisa muncul. Ada yang ingin mempertahankan rumah karena kenangan keluarga, sementara yang lain ingin segera melepasnya karena biaya perawatan.

Karena itu, para ahli menyarankan agar keluarga membicarakan nasib rumah sejak orang tua masih hidup, termasuk siapa yang akan mengurusnya, apakah akan dijual atau dibongkar, serta bagaimana biaya dan kepemilikannya akan ditangani.

Jikka-jimai pun kini menjadi salah satu persoalan yang semakin umum di Jepang seiring bertambahnya rumah kosong dan menurunnya jumlah penduduk di berbagai daerah.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Game XR Pertama Evangelion Resmi Diumumkan, Hadirkan Petualangan Baru dalam Trilogi VR dan Mixed Reality

2 October 2026 - 15:10 WIB

Jepang Keluar dari 10 Besar Destinasi Favorit Wisatawan China di Tengah Memburuknya Hubungan Bilateral

2 October 2026 - 12:10 WIB

Badan Imigrasi Jepang Umumkan Revisi Pedoman Pemberian Status Permanent Resident Mulai Berlaku April 2027

2 October 2026 - 10:10 WIB

Gelombang Kenaikan Harga Kembali Melanda Jepang, Lebih dari 3.100 Produk Makanan dan Minuman Naik pada Oktober

1 October 2026 - 15:10 WIB

Masjid di Okayama Jepang Resmi Jadi Tempat Pengungsian Saat Bencana

1 October 2026 - 12:10 WIB

Trending on News