Menu ✖

Dark Mode
Istana Kekaisaran Jepang Buka Pusat Wisata Baru, Ada Kafe Pertama dan Dek Observasi di Atap Bandara Narita Jepang Berencana Satukan 3 Terminal Jadi Satu Mulai 2030-an 1 WNI Dilaporkan Tewas Terseret Ombak Saat Memancing di Pantai Ibaraki, Jepang Jepang Kembangkan Roket untuk Meluncurkan Satelit Pengganti dalam Situasi Darurat Kuromi Sanrio Bakal Debut di Film Layar Lebar Pertamanya pada 2027! Puncak Gunung Fuji Akhirnya Diselimuti Salju Pertama Musim Ini

News

Keluarga Polisi di Jepang yang Meninggal Karena Overwork Terima Ganti Rugi Rp6,3 Miliar

badge-check


					Keluarga Polisi di Jepang yang Meninggal Karena Overwork Terima Ganti Rugi Rp6,3 Miliar Perbesar

Keluarga Takatoshi Watanabe, seorang polisi muda berusia 24 tahun yang meninggal karena bunuh diri akibat kelebihan beban kerja, akhirnya mendapatkan keadilan. Pengadilan Distrik Kumamoto memerintahkan Pemerintah Prefektur Kumamoto membayar kompensasi sebesar 61,8 juta yen (sekitar Rp6,3 miliar) pada 4 Desember 2024.


Penyebab Kematian Akibat Overwork (Karoshi)

Takatoshi Watanabe, yang bertugas di divisi kriminal Kantor Polisi Tamana, meninggal pada September 2017 hanya enam bulan setelah ditransfer ke posisi tersebut. Dalam lima bulan terakhir sebelum kematiannya, Watanabe bekerja lembur antara 143 hingga 185 jam per bulan, jauh di atas ambang batas karoshi yaitu 80 jam per bulan.

Pengadilan menyatakan bahwa:

  1. Jam kerja yang berlebihan menyebabkan depresi dan gangguan mental lain.
  2. Atasan Watanabe di divisi kriminal mengetahui kondisinya tetapi gagal memenuhi kewajiban perawatan dengan tidak mengurangi beban kerjanya.

Putusan Bersejarah: Jam Siaga Diakui sebagai Lembur

Salah satu poin penting dalam gugatan ini adalah perdebatan tentang jam siaga Watanabe, termasuk tugas malam. Prefektur Kumamoto berargumen bahwa jam-jam tersebut tidak bisa dianggap lembur karena dikategorikan sebagai “kerja intermittent” dengan waktu istirahat.

Namun, pengadilan menolak argumen tersebut, memutuskan bahwa:

  • Jam siaga adalah jam kerja karena Watanabe tetap berada di bawah pengawasan dan harus siap merespons insiden kapan saja.
  • Keputusan ini dianggap sebagai langkah penting dalam mengakui realitas kondisi kerja di Jepang.

Reaksi dan Harapan Keluarga

Ibu Watanabe, Michiyo, yang kini berusia 64 tahun, menyampaikan emosinya setelah putusan ini:

“Saya telah berjuang keras untuk memulihkan kehormatan anak saya. Putusan ini membuat saya meneteskan air mata.”

Pengacara keluarga, Takahiro Mitsunaga, menyebut keputusan ini sebagai langkah bersejarah dalam perlindungan hak pekerja.


Tanggung Jawab Prefektur Kumamoto

Meskipun menerima putusan pengadilan, Prefektur Kumamoto menyatakan akan mempelajari keputusan tertulis sebelum menentukan langkah selanjutnya. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap kesejahteraan mental dan fisik pekerja, terutama di sektor yang menuntut seperti kepolisian.

Dengan keputusan ini, Watanabe menjadi simbol perjuangan melawan karoshi, mengingatkan Jepang untuk lebih serius dalam menangani budaya kerja yang melelahkan.

 

4o

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Istana Kekaisaran Jepang Buka Pusat Wisata Baru, Ada Kafe Pertama dan Dek Observasi di Atap

2 November 2026 - 13:10 WIB

Bandara Narita Jepang Berencana Satukan 3 Terminal Jadi Satu Mulai 2030-an

2 November 2026 - 13:10 WIB

1 WNI Dilaporkan Tewas Terseret Ombak Saat Memancing di Pantai Ibaraki, Jepang

2 November 2026 - 11:10 WIB

Jepang Kembangkan Roket untuk Meluncurkan Satelit Pengganti dalam Situasi Darurat

2 November 2026 - 10:10 WIB

Puncak Gunung Fuji Akhirnya Diselimuti Salju Pertama Musim Ini

31 October 2026 - 10:30 WIB

Trending on News