Perusahaan ritel besar Jepang, Lawson, mengumumkan rencana untuk membangun jaringan 100 minimarket yang berfungsi sebagai pusat bantuan bencana pada tahun fiskal 2030. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa besar dan bencana alam lain yang sering melanda Jepang.
Minimarket ini akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas darurat seperti penyewaan pengisi daya portabel, dapur yang bisa menyiapkan dan membagikan onigiri (nasi kepal) secara langsung, serta panel surya di atap dan sistem energi alternatif yang memungkinkan toko tetap beroperasi meski terjadi pemadaman listrik besar-besaran.
Selain itu, toko juga akan menyimpan perlengkapan toilet darurat untuk kondisi ketika pasokan air terputus, dan layar digital yang menampilkan informasi serta berita terkini terkait situasi bencana.
Toko pertama yang akan dilengkapi fasilitas ini berada di Kota Futtsu, Prefektur Chiba, dan dijadwalkan beroperasi pada tahun fiskal ini yang berakhir Maret mendatang.
Lawson juga berencana untuk mengganti 100 mobil operasional perusahaan dengan kendaraan listrik (EV) yang nantinya dapat digunakan sebagai sumber daya listrik darurat saat bencana.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gempa besar di Palung Nankai, di mana pemerintah memperkirakan kemungkinan terjadinya gempa dalam 30 tahun ke depan mencapai 60–94,5%. Selain itu, curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim juga menjadi ancaman yang kian serius.
“Lawson bertujuan mengoperasikan toko dengan fasilitas dan perlengkapan yang mampu tetap berfungsi selama bencana alam, serta menjadi pusat dukungan komunitas lokal,” tulis perusahaan dalam pernyataannya.
Dengan inisiatif ini, Lawson ingin memastikan setiap toko bukan sekadar tempat berbelanja, tetapi juga bagian penting dari infrastruktur lokal yang membantu menyelamatkan nyawa saat krisis.
Sc : JT







