Sebuah lembaga riset di Jepang menyatakan pada Jumat bahwa sebanyak 20.609 produk makanan dan minuman mengalami kenaikan harga sepanjang 2025. Kenaikan ini terutama dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku dan tenaga kerja, yang semakin membebani keuangan rumah tangga.
Menurut Teikoku Databank Ltd., kondisi ini terjadi di tengah pelemahan nilai yen. Jumlah produk yang terdampak kenaikan harga ini menjadi yang tertinggi sejak 2023, ketika angkanya sempat mencapai 32.396 produk.
Berdasarkan kategori, bumbu masak mencatat kenaikan jumlah produk terbanyak dengan 6.221 item. Disusul minuman sebanyak 4.901 produk, yang terdampak lonjakan harga biji kopi, serta makanan olahan seperti beras kemasan dengan 4.791 produk.
Kenaikan harga paling tinggi terjadi pada produk minuman dan camilan, dengan rata-rata mencapai 18 persen. Hal ini didorong oleh melonjaknya harga cokelat akibat mahalnya biji kakao. Secara keseluruhan, rata-rata kenaikan harga berada di angka 15 persen, turun dari 17 persen pada tahun sebelumnya.
Teikoku juga mencatat bahwa sebanyak 3.593 produk akan mengalami kenaikan harga pada periode Januari hingga April. Angka ini menurun tajam dibandingkan laporan Desember 2024 untuk periode yang sama, yang mencatat 6.121 produk. Meski begitu, tren perusahaan untuk terus meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen semakin menguat, terutama karena meningkatnya biaya logistik dan tenaga kerja.
Seorang pejabat Teikoku menyebutkan bahwa pola kenaikan harga bertahap dan berulang diperkirakan masih akan terus berlanjut.
Sc : KN







