Pemerintah Jepang akan mengambil langkah yang lebih tegas untuk mengendalikan populasi beruang di negara itu, menyusul meningkatnya serangan beruang yang menimbulkan jumlah korban jiwa tertinggi dalam sejarah baru-baru ini, kata Menteri Lingkungan Hidup Keiichiro Asao pada Jumat (4/10).
Beruang telah ditetapkan sebagai spesies yang dapat dikendalikan populasinya sejak April 2024, namun jumlah penampakan dan serangan justru meningkat tajam. Hingga tahun fiskal yang dimulai pada April ini, tujuh orang telah tewas akibat serangan beruang.
“Kami akan memperkuat langkah-langkah pengendalian populasi beruang berdasarkan data ilmiah,” ujar Asao dalam konferensi pers. Ia juga meminta masyarakat untuk selalu memperhatikan informasi penampakan beruang yang diumumkan oleh pemerintah daerah.
Salah satu insiden terbaru terjadi di Prefektur Iwate, Jepang timur laut, di mana seorang pria berusia 60 tahun dilaporkan hilang pada Kamis setelah diduga diserang beruang. Jejak darah dan bulu hewan ditemukan di sekitar area pemandian terbuka (rotenburo) di penginapan bergaya Jepang tempat korban bekerja membersihkan.
Serangan beruang juga mulai terjadi di lokasi wisata. Pada awal Oktober, seorang turis asal Spanyol diserang oleh beruang di Prefektur Gifu.
Sebagai respons, pemerintah Jepang pada September lalu melonggarkan aturan pembunuhan beruang yang masuk ke daerah berpenduduk, memperbolehkan pemerintah daerah melakukan “penembakan darurat”.
Awal pekan ini, kota Sendai di Prefektur Miyagi menjadi daerah pertama yang melakukan penembakan terhadap seekor beruang di bawah aturan baru tersebut.
Sc : JT







