Menu

Dark Mode
Jun Matsumoto Resmi Bergabung di Live-Action Chiruran: Shinsengumi Requiem, Tayang Maret Cara Memilih Lokasi Hotel Jepang yang Benar-benar Strategis Survei: Hampir 80% Pelajar SMP–SMA di Jepang Gunakan ChatGPT dan Gemini Kata Jepang di Konbini yang Sering Bikin Orang Asing Bingung Anime Orisinal Candy Caries Ungkap Teaser Kedua, Daftar Pengisi Suara, dan Jadwal Tayang April Jepang Longgarkan Kuota Mahasiswa Asing, Tiga Universitas Top Dapat Izin Khusus

News

Marak Kasus “Sextortion” pada Anak di Jepang, Diperas, Diancam Hingga

badge-check


					Marak Kasus “Sextortion” pada Anak di Jepang, Diperas, Diancam Hingga Perbesar

Anak-anak di Jepang kini diperingatkan soal bahaya “sextortion” (pemerasan seksual online), di mana pelaku menargetkan anak di bawah umur yang dianggap naif dan enggan menceritakan masalahnya kepada orang tua.

Kasus sextortion di Jepang terus meningkat, dengan lonjakan laporan pada musim liburan musim panas saat remaja lebih banyak menghabiskan waktu di rumah menggunakan ponsel.

Modusnya, pelaku mendekati anak secara online lalu memaksa mereka mengirim foto atau video intim. Ada juga kasus di mana korban tidak melakukan apa pun, tetapi wajah mereka dipalsukan menggunakan AI generatif lalu ditempelkan ke konten pornografi.

Banyak korban memilih diam, membuat mereka semakin terjebak dalam ancaman pelaku.

“Penting bagi orang tua membangun hubungan yang membuat anak bisa bercerita santai dan terbuka,” kata Kazuko Ito, Wakil Presiden organisasi HAM Human Rights Now, dalam konferensi pers 17 Juli.

Organisasi nonprofit di Tokyo bernama PAPS (Organization for Pornography and Sexual Exploitation Survivors) mencatat lonjakan tajam laporan sextortion. Dalam 14 minggu pertama tahun fiskal ini saja, mereka sudah menerima 1.066 konsultasi, naik pesat dari tahun-tahun sebelumnya: 131 kasus (2022), 528 (2023), dan 1.864 (2024). Bahkan, salah satu korban tercatat masih duduk di kelas 5 SD.

Aplikasi Bahasa Inggris Jadi Target

Banyak pelaku memanfaatkan aplikasi belajar bahasa Inggris, aplikasi kencan, hingga media sosial. Setelah akrab dengan korban, mereka meminta foto/video intim, lalu mengancam menyebarkannya jika korban menolak atau tidak memenuhi permintaan, seperti mengirim lebih banyak foto atau melakukan transfer uang.

Pembayaran biasanya diminta melalui e-money card (contoh: Apple Gift Card), pembayaran cashless seperti PayPay, hingga cryptocurrency.

Banyak pelaku diduga berasal dari luar negeri. Ada yang berpendapat hal ini karena AI membuat bahasa tidak lagi jadi hambatan, ada pula yang menyebut para pelaku beralih ke Jepang setelah regulasi di Amerika Serikat diperketat.

Korban Laki-Laki Mendominasi

Menariknya, 68% laporan yang diterima PAPS berasal dari korban laki-laki.
Contohnya, seorang siswa laki-laki menerima foto telanjang dari seorang wanita di Instagram, lalu diminta membalas dengan foto serupa. Saat menolak, pelaku mengirim video porno hasil rekayasa dengan wajah siswa itu yang diambil dari media sosial. Video tersebut diancam akan disebarkan ke sekolah jika siswa tidak membayar.

“Banyak laki-laki berpikir mereka tidak akan jadi korban kejahatan seksual. Itu pandangan yang salah,” kata Kazuna Kanajiri, Direktur PAPS.

Ini menunjukkan bahwa sextortion terhadap anak di Jepang semakin mengkhawatirkan dan cenderung meningkat setiap tahun, terutama karena maraknya penggunaan media sosial dan aplikasi percakapan. Kasus ini menyoroti pentingnya peran orang tua dan wali untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, agar mereka berani mencari bantuan ketika menghadapi situasi berbahaya.

Selain itu, perlu adanya langkah tegas dari pemerintah, lembaga hukum, hingga organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat perlindungan anak di ranah digital. Dengan kesadaran bersama, pendampingan keluarga, serta aturan hukum yang lebih ketat, diharapkan anak-anak dapat lebih terlindungi dari jeratan pemerasan seksual online yang merusak masa depan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Survei: Hampir 80% Pelajar SMP–SMA di Jepang Gunakan ChatGPT dan Gemini

19 February 2026 - 18:10 WIB

Jepang Longgarkan Kuota Mahasiswa Asing, Tiga Universitas Top Dapat Izin Khusus

19 February 2026 - 15:10 WIB

Prefektur Kagawa Gandeng Nvidia, Dorong Pemanfaatan AI dan Pembangunan Data Center

19 February 2026 - 13:10 WIB

PM Sanae Takaichi Targetkan Penangguhan Pajak Konsumsi Makanan Selama Dua Tahun

19 February 2026 - 11:10 WIB

Jenazah Diduga Tiga Korban Helikopter Wisata Jatuh di Gunung Aso Ditemukan

19 February 2026 - 10:10 WIB

Trending on News