Menu

Dark Mode
Komposer Game Jepang Shigeru Ikeda Meninggal Dunia di Usia 57 Tahun WN Jepang Ditahan di Teheran Sejak Januari, Pemerintah Jepang Desak Iran Segera Bebaskan Shinchan Ketemu Maruko! Dua Manga Legendaris Jepang Resmi Crossover Setelah Puluhan Tahun Pemerintah Daerah Ibaraki Siap Kasih Imbalan Tunai Bagi yang Melapor Pekerja Asing Ilegal Jepang Murka: China Masukkan 20 Perusahaan Pertahanan Jepang ke Daftar Larangan Ekspor Tokyo Skytree Dibuka Kembali Kamis Usai Insiden Lift Terjebak

Culture

Mengapa Orang Jepang Melepas Sepatu Bahkan di Sekolah dan Kantor

badge-check


					Mengapa Orang Jepang Melepas Sepatu Bahkan di Sekolah dan Kantor Perbesar

Jika berkunjung ke Jepang, satu hal yang sering membuat orang asing heran adalah kebiasaan melepas sepatu, bukan hanya di rumah, tetapi juga di sekolah, kantor, klinik, hingga beberapa restoran dan penginapan. Bagi orang Jepang, kebiasaan ini bukan sekadar aturan sopan santun, melainkan bagian dari budaya yang sudah tertanam sejak kecil.

Lalu, apa sebenarnya alasan di balik kebiasaan ini?


1. Konsep Bersih dan Kotor yang Sangat Jelas

Dalam budaya Jepang, terdapat pemisahan tegas antara “luar” (soto) dan “dalam” (uchi). Sepatu dianggap membawa kotoran dari luar—debu, lumpur, bakteri—yang tidak boleh masuk ke ruang dalam.

Karena itu, begitu memasuki bangunan, sepatu harus dilepas dan diganti dengan uwabaki (sepatu dalam ruangan) atau sandal khusus. Ini bukan soal estetika, melainkan soal menjaga kesucian dan kebersihan ruang bersama.


2. Lantai Bukan Sekadar Tempat Berjalan

Di Jepang, lantai sering dianggap sebagai bagian aktif dari ruang hidup. Anak-anak bisa duduk, bermain, bahkan makan di lantai. Di rumah tradisional dengan tatami, lantai bahkan harus diperlakukan dengan hormat.

Mengenakan sepatu dari luar dianggap tidak sopan karena “mencemari” ruang yang seharusnya bersih dan nyaman.


3. Pendidikan Disiplin Sejak Usia Dini

Anak-anak Jepang sudah dibiasakan melepas sepatu sejak masuk taman kanak-kanak dan SD. Mereka membawa uwabaki sendiri, merapikannya di rak sepatu, dan bertanggung jawab atas kebersihan kelas.

Kebiasaan ini secara tidak langsung mengajarkan:

  • Disiplin

  • Tanggung jawab

  • Menghormati ruang bersama

Karena sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, praktik ini terasa alami, bahkan di kantor saat dewasa.


4. Kantor sebagai Ruang Bersama, Bukan Sekadar Tempat Kerja

Di beberapa kantor Jepang—terutama perusahaan kecil, kantor tradisional, atau kantor kreatif—melepas sepatu bertujuan menciptakan suasana kerja yang lebih rapi, tenang, dan nyaman.

Dengan tidak memakai sepatu luar:

  • Lantai tetap bersih

  • Ruang terasa lebih “rumah”

  • Pegawai lebih sadar menjaga kerapian

Ini sejalan dengan filosofi Jepang yang menghargai lingkungan kerja sebagai ruang bersama yang harus dijaga bersama.


5. Mengurangi Beban Kebersihan

Karena sepatu dilepas, gedung sekolah dan kantor di Jepang relatif lebih mudah dibersihkan. Bahkan, di sekolah, murid sendiri yang membersihkan ruang kelas setiap hari.

Kebiasaan ini menciptakan pola pikir:

“Kalau ruang ini kotor, itu tanggung jawab kita bersama.”


6. Bukan Sekadar Aturan, Tapi Budaya Kesadaran

Yang menarik, kebiasaan melepas sepatu di Jepang jarang dipaksakan dengan ancaman hukuman. Orang melakukannya karena sadar bahwa:

  • Sepatu bisa mengganggu orang lain

  • Kebersihan adalah bentuk rasa hormat

  • Ketertiban membuat semua orang nyaman

Inilah yang membuat budaya ini bertahan kuat, bahkan di era modern.


Bagi orang Jepang, melepas sepatu di sekolah dan kantor bukan hal aneh atau merepotkan. Justru sebaliknya, itu adalah simbol kesadaran sosial, penghormatan terhadap ruang, dan disiplin kolektif.

Dari kebiasaan sederhana ini, kita bisa melihat bagaimana budaya Jepang membentuk perilaku masyarakatnya—dimulai dari hal kecil, dilakukan konsisten, dan dijaga bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Jarang Menolak Secara Langsung

18 February 2026 - 09:00 WIB

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture