Pemerintah Jepang berencana memasukkan program pembagian “voucher beras” dalam paket stimulus ekonomi baru, menyusul harga beras yang masih berada di tingkat tertinggi dalam sejarah.
Menteri Pertanian Norikazu Suzuki mengatakan, beberapa pemerintah daerah sudah mulai membagikan voucher tersebut, dan pemerintah pusat akan menyiapkan subsidi lokal agar lebih banyak wilayah bisa menyalurkannya kepada rumah tangga.
Melalui kebijakan ini, pemerintah akan memperluas program subsidi yang sudah ada dan mendorong agar dana daerah digunakan untuk membantu pembelian beras.
Saat ini, harga rata-rata beras 5 kilogram mencapai sekitar 4.000 yen (sekitar Rp420.000) — tekanan yang semakin berat bagi keluarga dengan anak dan lansia yang bergantung pada pensiun.
Namun, program ini juga memiliki tantangan. Biaya administrasi dan pengiriman membuat beberapa daerah membatasi jumlah penerima, bahkan total biaya proyek bisa mencapai 1,5 kali lipat dari nilai voucher beras yang dibagikan.
Menteri Suzuki menolak ide dari pemerintahan sebelumnya untuk menekan harga dengan melepaskan stok beras cadangan, karena persediaan saat ini sudah jauh di bawah normal.
Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan bahwa pemerintah akan segera menyusun anggaran tambahan untuk mendanai paket stimulus ini, demi meringankan dampak inflasi terhadap masyarakat.
Sc : mainichi







