Menu

Dark Mode
Valentine di Jepang Kian Sepi? Semakin Banyak Perempuan Pilih Tak Beli Cokelat karena Harga Makin Mahal Kosakata Jepang untuk Biaya & Asuransi Toyota Ganti CEO Secara Mengejutkan di Tengah Gejolak Industri Otomotif Global Falcom Umumkan Kyoto Xanadu, Game Action RPG Baru untuk Nintendo Switch 2 dan Switch Manga Blue Exorcist Hiatus Mulai Maret, Bersiap Menuju Bab Terakhir Festival Sakura Ikonik dengan Latar Gunung Fuji Dibatalkan Akibat Overtourism

News

Pemilu Jepang Dimulai, PM Sanae Takaichi Bidik Kemenangan Besar

badge-check


					Pemilu Jepang Dimulai, PM Sanae Takaichi Bidik Kemenangan Besar Perbesar

Tempat pemungutan suara dibuka pada Minggu dalam pemilu parlemen Jepang yang diharapkan Perdana Menteri Sanae Takaichi dapat memberinya kemenangan cukup besar untuk mendorong agenda politik konservatif ambisiusnya.

Takaichi memang sangat populer, namun Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa—yang telah memimpin Jepang hampir sepanjang tujuh dekade terakhir—terpukul oleh berbagai skandal pendanaan dan agama. Ia memutuskan menggelar pemilu dadakan hanya tiga bulan setelah menjabat, dengan harapan dapat mengamankan dukungan publik sebelum popularitasnya menurun.

Takaichi ingin mendorong agenda sayap kanan yang bertujuan memperkuat ekonomi dan kemampuan militer Jepang di tengah meningkatnya ketegangan dengan China. Ia juga berupaya mempererat hubungan dengan sekutu utama Jepang, Amerika Serikat, serta Presiden Donald Trump yang dikenal sulit diprediksi.

Sebagai pemimpin ultrakonservatif sekaligus perdana menteri perempuan pertama Jepang sejak Oktober, Takaichi berjanji akan “bekerja, bekerja, dan terus bekerja.” Gaya kepemimpinannya yang dinilai tegas namun santai berhasil menarik simpati pemilih muda.

Survei terbaru menunjukkan LDP berpeluang meraih kemenangan telak di majelis rendah parlemen. Oposisi, meskipun telah membentuk aliansi sentris baru dan diwarnai kemunculan kelompok sayap kanan ekstrem, dinilai terlalu terpecah untuk menjadi penantang serius.

Takaichi bertaruh bahwa LDP bersama mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang (JIP), akan mengamankan mayoritas di majelis rendah beranggotakan 465 kursi, lembaga legislatif paling berpengaruh di Jepang. Beberapa survei media besar bahkan menunjukkan LDP berpotensi meraih mayoritas sederhana secara mandiri, sementara koalisi bisa memperoleh hingga 300 kursi—lonjakan besar dibanding mayoritas tipis pasca kekalahan pemilu 2024.

Jika LDP gagal meraih mayoritas, Takaichi menyatakan siap mengundurkan diri.

Kemenangan besar bagi koalisi Takaichi diperkirakan akan mendorong pergeseran signifikan ke kanan dalam kebijakan keamanan, imigrasi, dan isu lainnya. Ketua JIP Hirofumi Yoshimura menyebut partainya akan menjadi “akselerator” kebijakan.

Dalam beberapa waktu terakhir, Jepang juga menyaksikan menguatnya kelompok populis sayap kanan, termasuk partai nasionalis anti-globalisasi Sanseito. Takaichi berjanji merevisi kebijakan pertahanan dan keamanan sebelum Desember guna memperkuat kemampuan militer ofensif Jepang, melonggarkan larangan ekspor senjata, serta menjauh dari prinsip pasifisme pascaperang.

Ia juga mendorong kebijakan lebih keras terkait warga asing, kontra-spionase, dan langkah-langkah lain yang mendapat dukungan kelompok kanan, meski para pakar memperingatkan kebijakan tersebut berpotensi menggerus hak-hak sipil. Takaichi berencana meningkatkan anggaran pertahanan, sejalan dengan tekanan Trump agar Jepang berkontribusi lebih besar dalam aliansi keamanan.

Meski menyebut kebijakannya sebagai “kebijakan yang bisa memecah bangsa,” Takaichi dinilai menghindari isu sensitif selama kampanye, termasuk sumber pendanaan belanja militer yang melonjak dan cara meredakan ketegangan diplomatik dengan China.

Ia lebih banyak menekankan perlunya belanja pemerintah yang “proaktif” untuk investasi manajemen krisis dan pertumbuhan, seperti penguatan keamanan ekonomi dan teknologi. Takaichi juga ingin memperketat kebijakan imigrasi, termasuk pembatasan kepemilikan properti oleh warga asing dan penetapan batas jumlah penduduk asing.

Menurut Masato Kamikubo, profesor politik Universitas Ritsumeikan, pemilu dadakan ini mencerminkan masalah klasik politik Jepang, di mana kelangsungan kekuasaan lebih diutamakan daripada hasil kebijakan substantif. Setiap upaya reformasi yang tidak populer kerap terhambat oleh bayang-bayang pemilu berikutnya.

Pemilu kali ini juga diwarnai ketidakpastian. Waktu persiapan yang singkat memicu keluhan, sementara salju baru turun di berbagai wilayah, termasuk Tokyo. Salju ekstrem di Jepang utara dalam beberapa pekan terakhir telah menutup jalan dan menyebabkan puluhan kematian, berpotensi menghambat pemungutan suara atau penghitungan suara di wilayah terdampak.

Partisipasi pemilih muda—yang dikenal rendah—juga menjadi tanda tanya di tengah cuaca buruk.

Seorang pemilih berusia 54 tahun, Kazuki Ishihara, mengatakan ia memilih LDP demi stabilitas dan harapan akan perubahan di bawah kepemimpinan Takaichi. Sementara Yoshinori Tamada, pekerja kantoran berusia 50 tahun, mengatakan isu utama baginya adalah upah, dan ia memilih partai yang menurutnya paling bisa dipercaya dalam hal tersebut.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Valentine di Jepang Kian Sepi? Semakin Banyak Perempuan Pilih Tak Beli Cokelat karena Harga Makin Mahal

10 February 2026 - 10:10 WIB

Toyota Ganti CEO Secara Mengejutkan di Tengah Gejolak Industri Otomotif Global

9 February 2026 - 18:10 WIB

Festival Sakura Ikonik dengan Latar Gunung Fuji Dibatalkan Akibat Overtourism

9 February 2026 - 14:10 WIB

Kampanye Anti-Masjid Diseret ke Arena Politik Jepang, Picu Tuduhan Xenofobia

7 February 2026 - 10:10 WIB

Square Enix Umumkan Game HD-2D Baru “The Adventures of Elliot”, Rilis 18 Juni

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on News