Menu

Dark Mode
Game Baru Sword Art Online: Echoes of Aincrad Umumkan Jadwal Rilis dan Detail Edisi Manga Kemono Jihen Akan Diadaptasi Jadi Pertunjukan Teater, Angkat Arc Tokyo Kasus Ganja di Jepang Capai Rekor Tertinggi 2025, Mayoritas Pelaku Anak Muda Ekspansi Bandara Narita Terancam Molor, Pemerintah Pertimbangkan Pengadaan Lahan Secara Paksa Harga Tiket Pesawat ANA, JAL Rute Internasional dari Jepang Diperkirakan Naik hingga 100% Akibat Lonjakan Harga BBM Jepang Uji Daur Ulang Popok Bekas Jadi Produk Baru, Solusi untuk Limbah dan Populasi Menua

News

Pemilu Jepang Dimulai, PM Sanae Takaichi Bidik Kemenangan Besar

badge-check


					Pemilu Jepang Dimulai, PM Sanae Takaichi Bidik Kemenangan Besar Perbesar

Tempat pemungutan suara dibuka pada Minggu dalam pemilu parlemen Jepang yang diharapkan Perdana Menteri Sanae Takaichi dapat memberinya kemenangan cukup besar untuk mendorong agenda politik konservatif ambisiusnya.

Takaichi memang sangat populer, namun Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa—yang telah memimpin Jepang hampir sepanjang tujuh dekade terakhir—terpukul oleh berbagai skandal pendanaan dan agama. Ia memutuskan menggelar pemilu dadakan hanya tiga bulan setelah menjabat, dengan harapan dapat mengamankan dukungan publik sebelum popularitasnya menurun.

Takaichi ingin mendorong agenda sayap kanan yang bertujuan memperkuat ekonomi dan kemampuan militer Jepang di tengah meningkatnya ketegangan dengan China. Ia juga berupaya mempererat hubungan dengan sekutu utama Jepang, Amerika Serikat, serta Presiden Donald Trump yang dikenal sulit diprediksi.

Sebagai pemimpin ultrakonservatif sekaligus perdana menteri perempuan pertama Jepang sejak Oktober, Takaichi berjanji akan “bekerja, bekerja, dan terus bekerja.” Gaya kepemimpinannya yang dinilai tegas namun santai berhasil menarik simpati pemilih muda.

Survei terbaru menunjukkan LDP berpeluang meraih kemenangan telak di majelis rendah parlemen. Oposisi, meskipun telah membentuk aliansi sentris baru dan diwarnai kemunculan kelompok sayap kanan ekstrem, dinilai terlalu terpecah untuk menjadi penantang serius.

Takaichi bertaruh bahwa LDP bersama mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang (JIP), akan mengamankan mayoritas di majelis rendah beranggotakan 465 kursi, lembaga legislatif paling berpengaruh di Jepang. Beberapa survei media besar bahkan menunjukkan LDP berpotensi meraih mayoritas sederhana secara mandiri, sementara koalisi bisa memperoleh hingga 300 kursi—lonjakan besar dibanding mayoritas tipis pasca kekalahan pemilu 2024.

Jika LDP gagal meraih mayoritas, Takaichi menyatakan siap mengundurkan diri.

Kemenangan besar bagi koalisi Takaichi diperkirakan akan mendorong pergeseran signifikan ke kanan dalam kebijakan keamanan, imigrasi, dan isu lainnya. Ketua JIP Hirofumi Yoshimura menyebut partainya akan menjadi “akselerator” kebijakan.

Dalam beberapa waktu terakhir, Jepang juga menyaksikan menguatnya kelompok populis sayap kanan, termasuk partai nasionalis anti-globalisasi Sanseito. Takaichi berjanji merevisi kebijakan pertahanan dan keamanan sebelum Desember guna memperkuat kemampuan militer ofensif Jepang, melonggarkan larangan ekspor senjata, serta menjauh dari prinsip pasifisme pascaperang.

Ia juga mendorong kebijakan lebih keras terkait warga asing, kontra-spionase, dan langkah-langkah lain yang mendapat dukungan kelompok kanan, meski para pakar memperingatkan kebijakan tersebut berpotensi menggerus hak-hak sipil. Takaichi berencana meningkatkan anggaran pertahanan, sejalan dengan tekanan Trump agar Jepang berkontribusi lebih besar dalam aliansi keamanan.

Meski menyebut kebijakannya sebagai “kebijakan yang bisa memecah bangsa,” Takaichi dinilai menghindari isu sensitif selama kampanye, termasuk sumber pendanaan belanja militer yang melonjak dan cara meredakan ketegangan diplomatik dengan China.

Ia lebih banyak menekankan perlunya belanja pemerintah yang “proaktif” untuk investasi manajemen krisis dan pertumbuhan, seperti penguatan keamanan ekonomi dan teknologi. Takaichi juga ingin memperketat kebijakan imigrasi, termasuk pembatasan kepemilikan properti oleh warga asing dan penetapan batas jumlah penduduk asing.

Menurut Masato Kamikubo, profesor politik Universitas Ritsumeikan, pemilu dadakan ini mencerminkan masalah klasik politik Jepang, di mana kelangsungan kekuasaan lebih diutamakan daripada hasil kebijakan substantif. Setiap upaya reformasi yang tidak populer kerap terhambat oleh bayang-bayang pemilu berikutnya.

Pemilu kali ini juga diwarnai ketidakpastian. Waktu persiapan yang singkat memicu keluhan, sementara salju baru turun di berbagai wilayah, termasuk Tokyo. Salju ekstrem di Jepang utara dalam beberapa pekan terakhir telah menutup jalan dan menyebabkan puluhan kematian, berpotensi menghambat pemungutan suara atau penghitungan suara di wilayah terdampak.

Partisipasi pemilih muda—yang dikenal rendah—juga menjadi tanda tanya di tengah cuaca buruk.

Seorang pemilih berusia 54 tahun, Kazuki Ishihara, mengatakan ia memilih LDP demi stabilitas dan harapan akan perubahan di bawah kepemimpinan Takaichi. Sementara Yoshinori Tamada, pekerja kantoran berusia 50 tahun, mengatakan isu utama baginya adalah upah, dan ia memilih partai yang menurutnya paling bisa dipercaya dalam hal tersebut.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kasus Ganja di Jepang Capai Rekor Tertinggi 2025, Mayoritas Pelaku Anak Muda

3 April 2026 - 12:10 WIB

Ekspansi Bandara Narita Terancam Molor, Pemerintah Pertimbangkan Pengadaan Lahan Secara Paksa

3 April 2026 - 10:10 WIB

Harga Tiket Pesawat ANA, JAL Rute Internasional dari Jepang Diperkirakan Naik hingga 100% Akibat Lonjakan Harga BBM

3 April 2026 - 07:10 WIB

Jepang Uji Daur Ulang Popok Bekas Jadi Produk Baru, Solusi untuk Limbah dan Populasi Menua

2 April 2026 - 18:10 WIB

Warga Asing Makin Banyak, Kitakyushu Tunjuk Koordinator Multikultural untuk Perkuat Interaksi Warga Lokal dengan Asing

2 April 2026 - 13:10 WIB

Trending on News