Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat Indonesia setelah gempa bumi melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026.
Melalui akun X resminya, Takaichi menyampaikan duka cita kepada para korban meninggal dunia dan keluarga yang ditinggalkan. Ia juga menyampaikan simpati kepada seluruh masyarakat yang terdampak.
“Dalam masa sulit ini, Jepang bersama dengan masyarakat Indonesia.”
Pernyataan tersebut juga disampaikan dalam bahasa Indonesia. Takaichi menuliskan bahwa Jepang menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada para korban jiwa serta keluarga yang ditinggalkan dan menyatakan solidaritas kepada masyarakat Indonesia.
Namun, unggahan tersebut kemudian mendapat sejumlah komentar kritis dari warganet Jepang di X.
Sebagian mempertanyakan alasan pemerintah Jepang memberikan perhatian kepada bencana di luar negeri ketika Jepang sendiri masih menghadapi berbagai persoalan dan bencana.
Salah satu komentar mempertanyakan kebijakan tersebut dengan mengatakan bahwa masyarakat Jepang seolah akan melihat masa depan ketika pajak mereka digunakan untuk Indonesia.
Komentar lainnya menyoroti bahwa Jepang juga memiliki wilayah yang masih membutuhkan perhatian dan bantuan setelah bencana, serta meminta pemerintah lebih memprioritaskan korban bencana di dalam negeri.
Ada pula warganet yang mempertanyakan tujuan Takaichi dalam membuat pernyataan mengenai Indonesia dan menilai bahwa pemerintah seharusnya lebih fokus pada persoalan domestik.
Di sisi lain, tidak semua respons terhadap unggahan tersebut bernada negatif. Ada pula pengguna media sosial yang mengapresiasi sikap Takaichi yang menyampaikan belasungkawa dan solidaritas kepada Indonesia.
Gempa yang dimaksud terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus. Menurut laporan Weathernews yang mengutip data USGS, gempa tersebut diperkirakan memiliki magnitudo 7,7 dan berpusat di sekitar Flores, Indonesia.
Pernyataan Takaichi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Jepang turut menyampaikan solidaritas kepada Indonesia setelah bencana tersebut. Namun, unggahan itu juga memperlihatkan bagaimana pernyataan mengenai bantuan dan hubungan internasional dapat memicu perdebatan di kalangan masyarakat Jepang, terutama ketika dikaitkan dengan prioritas pemerintah terhadap persoalan domestik.








