Menu

Dark Mode
JR East Perkenalkan Kereta Inspeksi Shinkansen Baru, Bisa Melaju 320 Km/Jam Pohon Tumbang Saat Turnamen Sepak Bola Anak di Jepang, 7 Orang Terluka Fajar/Fikri Sabet Gelar Juara Usai Kalahkan Ganda Putra No.1 Dunia di Japan Open 2026 Dua Warga Vietnam Jadi Sopir Bus Asing Pertama di Shikoku, Jepang Distrik di Tokyo Pasang Kamera AI Pengenal Wajah untuk Cari Anak dan Lansia Hilang, Picu Kekhawatiran Privasi Populasi Rusa di Taman Nara Pecahkan Rekor, Wisatawan Diminta Jangan Sembarangan Memberi Makan

News

Pernyataan Menteri Pertanian Jepang Terkait Beras Dikecam Publik, Kini Mengundurkan Diri

badge-check

Menteri Pertanian Jepang, Taku Eto, resmi mengundurkan diri pada Rabu (22/5) setelah mendapat kecaman luas atas komentarnya yang dinilai tidak sensitif di tengah lonjakan harga beras di Jepang. Eto mengaku tidak membeli beras karena mendapat banyak dari para pendukungnya — pernyataan yang langsung menyulut kemarahan publik.

Komentar tersebut disampaikan Eto saat menghadiri acara penggalangan dana pada Minggu (19/5), tepat ketika kementeriannya tengah berupaya menstabilkan harga beras dengan melepas stok darurat. Harga beras di Jepang telah meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya akibat gagal panen, membuat masyarakat semakin terjepit secara ekonomi.

“Saya tidak membeli beras. Berkat para pendukung yang memberi saya banyak, saya punya cukup banyak di rumah sampai-sampai bisa saya jual,” kata Eto di hadapan pendukung Partai Demokrat Liberal (LDP) di Prefektur Saga, Kyushu.

Pernyataan ini dianggap sangat tidak pantas oleh banyak kalangan, terutama karena pemerintah baru mulai melepas cadangan beras pada bulan Maret, meski harga sudah merangkak naik sejak musim gugur. Publik pun bereaksi keras. Dalam survei akhir pekan oleh Kyodo News, 87 persen responden menyatakan tidak puas dengan penanganan pemerintah terhadap harga beras yang melambung.

Perdana Menteri Shigeru Ishiba awalnya masih memberi kesempatan Eto untuk bertahan di jabatannya dengan syarat ia menarik kembali ucapannya dan meminta maaf secara terbuka. Eto pun menyatakan siap mundur jika diminta dan menyampaikan permintaan maaf, “Saya menarik kembali pernyataan saya sepenuhnya dan meminta maaf.”

Namun, tekanan politik terus meningkat. Partai oposisi menyebut komentar tersebut sebagai “tidak peka” dan “tidak pantas” di tengah krisis biaya hidup. Akhirnya, Eto menjadi menteri pertama dalam kabinet Ishiba yang mundur bukan karena kalah dalam pemilu, melainkan karena skandal politik.

Pengunduran diri ini juga menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Ishiba, yang saat ini sedang mengalami penurunan drastis dalam tingkat dukungan publik menjelang pemilu musim panas. Harga rata-rata beras di supermarket Jepang saat ini mencapai rekor 4.268 yen (sekitar Rp470.000) per 5 kilogram, dan banyak rumah tangga mulai mengurangi pembelian karena dianggap terlalu mahal.

Pemerintah sendiri telah menggelar lelang untuk 312.000 ton beras cadangan antara Maret dan April, dan akan melepas 300.000 ton tambahan sebelum Juli. Namun, bagi banyak warga, pengunduran diri Eto hanyalah awal dari tuntutan yang lebih besar agar pemerintah lebih tanggap terhadap krisis pangan yang nyata ini.

Sc : mainichi, KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

JR East Perkenalkan Kereta Inspeksi Shinkansen Baru, Bisa Melaju 320 Km/Jam

20 July 2026 - 14:10 WIB

Pohon Tumbang Saat Turnamen Sepak Bola Anak di Jepang, 7 Orang Terluka

20 July 2026 - 10:50 WIB

Fajar/Fikri Sabet Gelar Juara Usai Kalahkan Ganda Putra No.1 Dunia di Japan Open 2026

20 July 2026 - 10:48 WIB

Dua Warga Vietnam Jadi Sopir Bus Asing Pertama di Shikoku, Jepang

20 July 2026 - 10:43 WIB

Distrik di Tokyo Pasang Kamera AI Pengenal Wajah untuk Cari Anak dan Lansia Hilang, Picu Kekhawatiran Privasi

18 July 2026 - 12:10 WIB

Trending on News