Menu

Dark Mode
PM Sanae Takaichi Targetkan Penangguhan Pajak Konsumsi Makanan Selama Dua Tahun Jenazah Diduga Tiga Korban Helikopter Wisata Jatuh di Gunung Aso Ditemukan Krisis Demografi Hantam Kampus Swasta Jepang, 30% Terancam Krisis Keuangan pada 2040 Kosakata Jepang yang Sering Didengar dari Pengumuman Stasiun Manga Legendaris Shoujo “Red River” Dapat Adaptasi Anime, Tayang Musim Panas Tahun Ini Dead or Alive 6 Dapat Versi Baru! “Last Round” Rilis Juni, Support PS5, Xbox Series, & PC

News

Polisi Jepang Siapkan Uji Coba AI untuk Menemukan Potensi Pelaku Teroris

badge-check


					Polisi Jepang Siapkan Uji Coba AI untuk Menemukan Potensi Pelaku Teroris Perbesar

Badan Kepolisian Nasional Jepang (警察庁/Keisatsuchō) memutuskan akan memulai uji coba penggunaan kecerdasan buatan (AI) mulai tahun fiskal depan untuk menemukan individu yang berpotensi terkait terorisme melalui postingan di media sosial. Target utama pengawasan adalah “lone offender” (LO) atau pelaku tunggal yang tidak tergabung dalam organisasi mana pun sehingga sulit terdeteksi keberadaannya. Tujuannya, agar tanda-tanda teror bisa dikenali sejak dini dan mencegah aksi terjadi. Untuk program ini, kepolisian mengajukan anggaran sekitar 49,5 juta yen.

Contoh kasus terjadi pada Juli lalu, saat masa kampanye pemilihan anggota majelis tinggi. Di akun media sosial mantan Perdana Menteri Fumio Kishida, yang dijadwalkan berpidato di Stasiun JR Funabashi (Prefektur Chiba), muncul komentar: “Kalau dia datang, akan saya bunuh.” Polisi segera melacak penulis komentar itu dan memberikan peringatan. Orang tersebut mengaku menulis postingan itu dalam keadaan mabuk.

Dalam kurun waktu satu bulan hingga hari pemungutan suara, polisi mencatat sekitar 900 postingan serupa. Selama ini, deteksi dilakukan manual oleh aparat kepolisian di tiap prefektur. Namun, karena keterbatasan tenaga manusia, tidak semua unggahan berbahaya bisa terpantau.

Karena itu, kepolisian berencana menggunakan AI untuk menyaring postingan dengan kata kunci mencurigakan seperti “bom”, “56す” (gorosu / ‘bunuh’), atau “4ね” (shine / ‘mati’).

AI juga akan menilai tingkat bahaya sebuah unggahan. Misalnya, apakah penulis pernah membuat postingan yang memuji aksi teror di masa lalu. Dengan begitu, sistem bisa memberi prioritas pada postingan yang benar-benar perlu diwaspadai. Setelah AI melakukan seleksi, tindak lanjut seperti identifikasi, peringatan, atau penindakan tetap akan dilakukan oleh polisi.

Sc : asahi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PM Sanae Takaichi Targetkan Penangguhan Pajak Konsumsi Makanan Selama Dua Tahun

19 February 2026 - 11:10 WIB

Jenazah Diduga Tiga Korban Helikopter Wisata Jatuh di Gunung Aso Ditemukan

19 February 2026 - 10:10 WIB

Krisis Demografi Hantam Kampus Swasta Jepang, 30% Terancam Krisis Keuangan pada 2040

19 February 2026 - 09:36 WIB

Jumlah Bunuh Diri di Jepang Turun di Bawah 20 Ribu pada 2025, Namun Kasus di Kalangan Pelajar Masih Tinggi

18 February 2026 - 15:10 WIB

Ketemu Jodoh di Dating App Makin Umum di Jepang, Tapi Kasus “Ngaku Jomblo Padahal Sudah Nikah” Ikut Meningkat

18 February 2026 - 15:10 WIB

Trending on News