Menu

Dark Mode
Manga One-Shot Perdana Kreator Gintama “Dandelion” Dapat Adaptasi Anime, Tayang April di Netflix PM Jepang Sanae Takaichi Tegaskan Tolak Perubahan Aturan Suksesi Kekaisaran Jepang Batasi Power Bank di Pesawat Maksimal Dua per Penumpang, Dilarang Digunakan Saat Terbang Kagoshima Subsidi Penuh Tiket Shinkansen untuk Turis Asing, Tuai Kritik Publik Film Anime Perdana Chiikawa Tayang 24 Juli, Angkat Arc “Pulau Putri Duyung” Drama Live-Action Solitary Gourmet Umumkan Season 11, Tayang April 2026

News

Popularitas Pisau Sakai Meningkat, Didukung Wisatawan Asing

badge-check


					Popularitas Pisau Sakai Meningkat, Didukung Wisatawan Asing Perbesar

Popularitas pisau buatan kota Sakai di Jepang bagian barat semakin meningkat di dunia, dengan wisatawan asing turut mendorong penjualan merek lokal ini, yang dianggap sebagai salah satu dari tiga pisau tradisional terbaik di Jepang.

Museum Sakai Traditional Crafts mencatat bahwa penjualan tahunan pisau mereka melampaui 100 juta yen untuk pertama kalinya pada tahun fiskal 2023 dan diperkirakan akan mencapai rekor baru tahun ini. Wisatawan asing dari Amerika Serikat, Prancis, dan negara lainnya menyumbang setengah dari total penjualan.

Menurut museum yang dikelola oleh pemerintah kota, sejarah pisau Sakai dapat ditelusuri hingga periode Kofun (abad ke-3 hingga ke-7), ketika para pandai besi berkumpul di daerah tersebut untuk menempa alat besi guna membangun makam bagi kelas penguasa. Salah satu makam tersebut adalah gundukan berbentuk lubang kunci yang kini dikelola oleh Badan Rumah Tangga Kekaisaran sebagai makam Kaisar Nintoku dan telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Industri pisau Sakai berkembang pesat pada akhir abad ke-16 setelah tembakau diperkenalkan ke Jepang oleh Portugis, yang mendorong permintaan akan pisau tembakau berkualitas tinggi. Akibatnya, pisau Sakai mendapatkan pengakuan resmi dari Shogun Tokugawa, status yang bertahan hingga tahun 1868.

Berbeda dengan pisau produksi massal, pisau Sakai dibuat secara handmade oleh para pengrajin yang memiliki keahlian khusus dalam menempa, menajamkan, dan membuat gagang pisau—dengan setiap tahap dilakukan secara terpisah.

Hingga kini, pisau Sakai tetap dibuat dengan teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun dan banyak digunakan oleh para koki profesional di Jepang.

“Wisatawan asing tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli kisah di baliknya,” ujar Eric Chevallier, 35 tahun, koordinator penjualan internasional di Sakai City Industrial Promotion Center.

Chevallier, yang berasal dari Prancis, sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjelaskan detail setiap pisau kepada pengunjung yang ingin mengenal lebih dalam tentang pisau tersebut.

“Dengan mengetahui sejarah dan proses pembuatan pisau yang mereka beli, para wisatawan dapat membayangkan latar belakangnya saat menggunakannya di negara asal mereka,” tambahnya.

Banyak wisatawan asing membeli hingga puluhan pisau sebagai suvenir untuk keluarga dan teman, dengan pisau yang memiliki motif gelombang pada bilahnya menjadi yang paling populer.

Menurut data kota Sakai, nilai penjualan pisau di museum meningkat dari 20 juta yen pada tahun fiskal 2021 (di tengah pandemi COVID-19) menjadi 80 juta yen pada tahun berikutnya, dan mencapai 140 juta yen pada tahun fiskal terbaru.

“Prioritas utama kami adalah memberikan layanan terbaik. Kami berusaha menjelaskan latar belakang setiap pisau dengan cermat kepada setiap pelanggan agar mereka dapat menggunakannya selama bertahun-tahun,” kata Misa Endo, direktur museum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Manga One-Shot Perdana Kreator Gintama “Dandelion” Dapat Adaptasi Anime, Tayang April di Netflix

28 February 2026 - 17:10 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Tegaskan Tolak Perubahan Aturan Suksesi Kekaisaran

28 February 2026 - 13:10 WIB

Jepang Batasi Power Bank di Pesawat Maksimal Dua per Penumpang, Dilarang Digunakan Saat Terbang

28 February 2026 - 12:10 WIB

Kagoshima Subsidi Penuh Tiket Shinkansen untuk Turis Asing, Tuai Kritik Publik

28 February 2026 - 07:32 WIB

Angka Kelahiran di Jepang Anjlok ke 705 Ribu pada 2025, Terendah Sejak 1899

27 February 2026 - 12:10 WIB

Trending on News