Menu

Dark Mode
Salju Lebat Terus Guyur Wilayah Pantai Laut Jepang, Transportasi Terancam Terganggu Kosakata Jepang yang Dipakai Saat Mengomentari Makanan Film Animasi “The Super Mario Galaxy Movie” Rilis 1 April di Amerika Utara, Yoshi Tampil Perdana Film Anime “Kimi to Hanabi to Yakusoku to” Tayang 17 Juli, Berlatar Festival Kembang Api Nagaoka Anime TV “Dragon Ball Super: Beerus” Diumumkan, Versi Enhanced Akan Tayang Musim Gugur 2026 Larangan Merokok di Jalanan Osaka Picu Perbedaan Pendapat, Perokok Minta Area Tambahan

News

Popularitas Pisau Sakai Meningkat, Didukung Wisatawan Asing

badge-check


					Popularitas Pisau Sakai Meningkat, Didukung Wisatawan Asing Perbesar

Popularitas pisau buatan kota Sakai di Jepang bagian barat semakin meningkat di dunia, dengan wisatawan asing turut mendorong penjualan merek lokal ini, yang dianggap sebagai salah satu dari tiga pisau tradisional terbaik di Jepang.

Museum Sakai Traditional Crafts mencatat bahwa penjualan tahunan pisau mereka melampaui 100 juta yen untuk pertama kalinya pada tahun fiskal 2023 dan diperkirakan akan mencapai rekor baru tahun ini. Wisatawan asing dari Amerika Serikat, Prancis, dan negara lainnya menyumbang setengah dari total penjualan.

Menurut museum yang dikelola oleh pemerintah kota, sejarah pisau Sakai dapat ditelusuri hingga periode Kofun (abad ke-3 hingga ke-7), ketika para pandai besi berkumpul di daerah tersebut untuk menempa alat besi guna membangun makam bagi kelas penguasa. Salah satu makam tersebut adalah gundukan berbentuk lubang kunci yang kini dikelola oleh Badan Rumah Tangga Kekaisaran sebagai makam Kaisar Nintoku dan telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Industri pisau Sakai berkembang pesat pada akhir abad ke-16 setelah tembakau diperkenalkan ke Jepang oleh Portugis, yang mendorong permintaan akan pisau tembakau berkualitas tinggi. Akibatnya, pisau Sakai mendapatkan pengakuan resmi dari Shogun Tokugawa, status yang bertahan hingga tahun 1868.

Berbeda dengan pisau produksi massal, pisau Sakai dibuat secara handmade oleh para pengrajin yang memiliki keahlian khusus dalam menempa, menajamkan, dan membuat gagang pisau—dengan setiap tahap dilakukan secara terpisah.

Hingga kini, pisau Sakai tetap dibuat dengan teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun dan banyak digunakan oleh para koki profesional di Jepang.

“Wisatawan asing tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli kisah di baliknya,” ujar Eric Chevallier, 35 tahun, koordinator penjualan internasional di Sakai City Industrial Promotion Center.

Chevallier, yang berasal dari Prancis, sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjelaskan detail setiap pisau kepada pengunjung yang ingin mengenal lebih dalam tentang pisau tersebut.

“Dengan mengetahui sejarah dan proses pembuatan pisau yang mereka beli, para wisatawan dapat membayangkan latar belakangnya saat menggunakannya di negara asal mereka,” tambahnya.

Banyak wisatawan asing membeli hingga puluhan pisau sebagai suvenir untuk keluarga dan teman, dengan pisau yang memiliki motif gelombang pada bilahnya menjadi yang paling populer.

Menurut data kota Sakai, nilai penjualan pisau di museum meningkat dari 20 juta yen pada tahun fiskal 2021 (di tengah pandemi COVID-19) menjadi 80 juta yen pada tahun berikutnya, dan mencapai 140 juta yen pada tahun fiskal terbaru.

“Prioritas utama kami adalah memberikan layanan terbaik. Kami berusaha menjelaskan latar belakang setiap pisau dengan cermat kepada setiap pelanggan agar mereka dapat menggunakannya selama bertahun-tahun,” kata Misa Endo, direktur museum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Salju Lebat Terus Guyur Wilayah Pantai Laut Jepang, Transportasi Terancam Terganggu

26 January 2026 - 18:10 WIB

Larangan Merokok di Jalanan Osaka Picu Perbedaan Pendapat, Perokok Minta Area Tambahan

26 January 2026 - 12:30 WIB

Penggemar Padati Kebun Binatang Ueno untuk Perpisahan dengan Dua Panda Sebelum Dipulangkan ke China

26 January 2026 - 12:10 WIB

Prefektur Tottori Berlakukan Aturan Baru untuk Perintahkan Penghapusan Ujaran Diskriminatif di Media Sosial

26 January 2026 - 11:10 WIB

Ramai Wisatawan Muslim ke Jepang, Tapi Fasilitas Salat Masih Jadi Tantangan

26 January 2026 - 10:10 WIB

Trending on News