Menu

Dark Mode
Tiga Bank Raksasa Jepang Akan Luncurkan Stablecoin Bersama untuk Investasi Saham Parlemen Jepang Setujui Buku Pelajaran Digital, Mulai Berlaku Paling Cepat Tahun 2030 Prefektur Saga Jadi Rumah bagi Pusat Edukasi Sampah Plastik Laut Pertama di Jepang Barat Demo Digimon Story Time Stranger untuk Nintendo Switch dan Switch 2 Sudah Tersedia Rekor Baru! Hampir 42% Pegawai Negeri Baru Pemerintah Jepang Kini Perempuan Survey : Orang Jepang Kini Anggap Iklan 30 Detik Terlalu Lama

News

Popularitas Pisau Sakai Meningkat, Didukung Wisatawan Asing

badge-check


					Popularitas Pisau Sakai Meningkat, Didukung Wisatawan Asing Perbesar

Popularitas pisau buatan kota Sakai di Jepang bagian barat semakin meningkat di dunia, dengan wisatawan asing turut mendorong penjualan merek lokal ini, yang dianggap sebagai salah satu dari tiga pisau tradisional terbaik di Jepang.

Museum Sakai Traditional Crafts mencatat bahwa penjualan tahunan pisau mereka melampaui 100 juta yen untuk pertama kalinya pada tahun fiskal 2023 dan diperkirakan akan mencapai rekor baru tahun ini. Wisatawan asing dari Amerika Serikat, Prancis, dan negara lainnya menyumbang setengah dari total penjualan.

Menurut museum yang dikelola oleh pemerintah kota, sejarah pisau Sakai dapat ditelusuri hingga periode Kofun (abad ke-3 hingga ke-7), ketika para pandai besi berkumpul di daerah tersebut untuk menempa alat besi guna membangun makam bagi kelas penguasa. Salah satu makam tersebut adalah gundukan berbentuk lubang kunci yang kini dikelola oleh Badan Rumah Tangga Kekaisaran sebagai makam Kaisar Nintoku dan telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Industri pisau Sakai berkembang pesat pada akhir abad ke-16 setelah tembakau diperkenalkan ke Jepang oleh Portugis, yang mendorong permintaan akan pisau tembakau berkualitas tinggi. Akibatnya, pisau Sakai mendapatkan pengakuan resmi dari Shogun Tokugawa, status yang bertahan hingga tahun 1868.

Berbeda dengan pisau produksi massal, pisau Sakai dibuat secara handmade oleh para pengrajin yang memiliki keahlian khusus dalam menempa, menajamkan, dan membuat gagang pisau—dengan setiap tahap dilakukan secara terpisah.

Hingga kini, pisau Sakai tetap dibuat dengan teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun dan banyak digunakan oleh para koki profesional di Jepang.

“Wisatawan asing tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli kisah di baliknya,” ujar Eric Chevallier, 35 tahun, koordinator penjualan internasional di Sakai City Industrial Promotion Center.

Chevallier, yang berasal dari Prancis, sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjelaskan detail setiap pisau kepada pengunjung yang ingin mengenal lebih dalam tentang pisau tersebut.

“Dengan mengetahui sejarah dan proses pembuatan pisau yang mereka beli, para wisatawan dapat membayangkan latar belakangnya saat menggunakannya di negara asal mereka,” tambahnya.

Banyak wisatawan asing membeli hingga puluhan pisau sebagai suvenir untuk keluarga dan teman, dengan pisau yang memiliki motif gelombang pada bilahnya menjadi yang paling populer.

Menurut data kota Sakai, nilai penjualan pisau di museum meningkat dari 20 juta yen pada tahun fiskal 2021 (di tengah pandemi COVID-19) menjadi 80 juta yen pada tahun berikutnya, dan mencapai 140 juta yen pada tahun fiskal terbaru.

“Prioritas utama kami adalah memberikan layanan terbaik. Kami berusaha menjelaskan latar belakang setiap pisau dengan cermat kepada setiap pelanggan agar mereka dapat menggunakannya selama bertahun-tahun,” kata Misa Endo, direktur museum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Tiga Bank Raksasa Jepang Akan Luncurkan Stablecoin Bersama untuk Investasi Saham

11 June 2026 - 15:10 WIB

Parlemen Jepang Setujui Buku Pelajaran Digital, Mulai Berlaku Paling Cepat Tahun 2030

11 June 2026 - 11:10 WIB

Prefektur Saga Jadi Rumah bagi Pusat Edukasi Sampah Plastik Laut Pertama di Jepang Barat

11 June 2026 - 10:10 WIB

Rekor Baru! Hampir 42% Pegawai Negeri Baru Pemerintah Jepang Kini Perempuan

10 June 2026 - 18:10 WIB

Survey : Orang Jepang Kini Anggap Iklan 30 Detik Terlalu Lama

10 June 2026 - 18:10 WIB

Trending on News