Tokyo mencatat rekor baru dengan 10 hari berturut-turut suhu mencapai 35°C atau lebih, menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA) pada Rabu. Ini adalah pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada 1875 terjadi rentetan panas ekstrem seperti ini.
Fenomena ini muncul setelah Jepang mengalami Juni dan Juli terpanas sepanjang sejarah, serta suhu tertinggi yang pernah tercatat di negara itu pada Agustus lalu: 41,8°C di Isesaki, Prefektur Gunma.
Dampak iklim ekstrem juga terlihat di wilayah lain. Di Hokkaido, kota Toyotomi diguyur hujan setara curah rata-rata sebulan hanya dalam 12 jam, sementara di Yamaguchi, hampir 400 rumah tangga diminta evakuasi karena ancaman longsor.
Kondisi panas ekstrem membuat lebih dari 8.400 orang dirawat di rumah sakit akibat heatstroke minggu lalu, dengan 12 di antaranya meninggal dunia. Lansia menjadi kelompok paling rentan mengingat Jepang memiliki populasi tertua kedua di dunia.
Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim memicu berbagai dampak: bunga sakura bermekaran lebih awal atau tidak sempurna, salju di puncak Gunung Fuji terlambat muncul, hingga penurunan produktivitas pekerja di sektor pertanian, perikanan, dan konstruksi akibat suhu tinggi.
Laporan PBB menegaskan setiap kenaikan suhu 1°C di atas 20°C bisa memangkas produktivitas pekerja hingga 3 persen, disertai risiko kesehatan seperti dehidrasi, gangguan ginjal, hingga gangguan saraf.
Sc : JT







