Saham-saham di Tokyo naik untuk hari ketiga berturut-turut pada Senin, didorong oleh optimisme terkait kemungkinan perubahan kebijakan setelah Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengumumkan niatnya untuk mundur.
Nikkei 225, yang mencakup 225 emiten, ditutup naik 625,06 poin atau 1,45 persen dari penutupan Jumat, menjadi 43.643,81. Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas berakhir 32,89 poin atau 1,06 persen lebih tinggi di 3.138,20, menembus rekor tertinggi baru.
Di Prime Market, sektor yang mencatat kenaikan terbesar antara lain real estate, logam nonferrous, dan farmasi.
Di pasar valuta asing Tokyo, dolar AS sebagian besar berada di kisaran 148 yen, seiring pelemahan yen akibat spekulasi bahwa pemerintah Jepang berikutnya akan menerapkan kebijakan fiskal ekspansif. Namun, dolar kemudian melemah ke kisaran 147 yen pertengahan, menyusul prediksi investor mengenai kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS pekan depan, setelah data tenaga kerja Agustus yang dirilis Jumat lalu menunjukkan hasil lebih lemah dari perkiraan.
Pada pukul 17.00 waktu Tokyo, dolar diperdagangkan di 147,52-53 yen, dibandingkan 147,36-46 yen di New York dan 148,21-23 yen di Tokyo pada Jumat sore. Euro dikutip $1,1732-1733 dan 173,08-12 yen, dibandingkan dengan $1,1716-1726 dan 172,70-80 yen di New York serta $1,1676-1678 dan 173,06-10 yen di Tokyo Jumat sore.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10-tahun ditutup di 1,565 persen, turun 0,005 poin persen dari Jumat, karena investor membeli surat utang sambil bersikap hati-hati menunggu siapa yang akan masuk dalam perlombaan kepemimpinan dan kebijakan apa yang akan diajukan.
Indeks Nikkei sempat melonjak lebih dari 800 poin, seiring saham perusahaan mesin dan elektronik ekspor diborong akibat melemahnya yen, yang meningkatkan keuntungan ekspor saat dikonversi ke mata uang lokal.
“Saham naik karena pengunduran diri Ishiba dipandang meningkatkan ekspektasi terhadap ekspansi fiskal,” kata Masahiro Ichikawa, kepala strategi pasar di Sumitomo Mitsui DS Asset Management Co.
Namun, Ichikawa menambahkan bahwa saham Tokyo “akan sulit terus naik hanya berdasarkan ekspektasi ekspansi fiskal,” mengingat pemerintah minoritas di bawah pemimpin baru harus menyeimbangkan tuntutan partai oposisi yang ingin ekspansi fiskal dengan anggota kunci partai penguasa yang berhati-hati terhadap pemotongan pajak konsumsi.
Sentimen pasar juga didorong oleh data pemerintah yang dirilis sebelumnya, yang menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh 2,2 persen secara tahunan pada kuartal April-Juni, direvisi naik dari laporan awal 1,0 persen.
Meski demikian, beberapa investor masih enggan membeli saham lebih lanjut karena khawatir dengan prospek ekonomi AS, menyusul data ketenagakerjaan Agustus yang menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja.
Sc ; KN







