Menu

Dark Mode
Kata Jepang yang Dipakai Saat Memesan Minuman Pekerja Tewas Terbakar dalam Tradisi Pembakaran Padang Rumput di Yamaguchi Jepang Minta Data Kewarganegaraan Penghuni Asing Rumah Susun, Alasan Evakuasi dan Ketertiban 3 Anak Remaja di Daerah Dotonbori Osaka Jadi Korban Penusukan, 1 Orang Meninggal Bus Kota Kyoto Ubah Sistem Naik-Turun Penumpang Demi Atasi Overcrowding Turis Anime Marriage Toxin Resmi Tayang Mulai 7 April, Produksi Studio BONES Film

News

Status Waspada Gempa Susulan Dicabut, Pemerintah Jepang Tetap Imbau Warga Siaga Bencana

badge-check


					Status Waspada Gempa Susulan Dicabut, Pemerintah Jepang Tetap Imbau Warga Siaga Bencana Perbesar

Imbauan kewaspadaan terkait meningkatnya risiko gempa kuat susulan dicabut pada tengah malam hari Senin, menyusul gempa bermagnitudo 7,5 yang mengguncang wilayah Jepang utara dan timur laut sepekan sebelumnya.

Meski warga tidak lagi diminta untuk selalu siap mengungsi sewaktu-waktu, pemerintah tetap mengimbau masyarakat agar terus melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan bencana, termasuk menyiapkan dan menyimpan persediaan darurat.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) sebelumnya untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan khusus yang mencakup 182 munisipalitas di tujuh prefektur, dari Hokkaido hingga Chiba di timur Tokyo, karena meningkatnya risiko terjadinya gempa besar lanjutan.

Selama masa satu pekan peringatan tersebut, tidak terjadi gempa besar lanjutan. Namun, hingga pukul 14.00 hari Senin, tercatat 40 gempa dengan intensitas 1 atau lebih pada skala intensitas seismik tujuh tingkat Jepang, menurut JMA.

Gempa utama bermagnitudo 7,5 terjadi larut malam pada 8 Desember di lepas pantai timur Prefektur Aomori, pada kedalaman sekitar 54 kilometer. Gempa ini mendorong JMA mengeluarkan peringatan tsunami untuk sebagian wilayah Hokkaido, Aomori, dan Iwate.

Hingga hari Senin, pemerintah melaporkan total 46 orang mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. Sementara itu, berdasarkan penghitungan Kyodo News, lebih dari 9.000 orang sempat mengungsi.

Pada 9 Desember, sehari setelah gempa, layanan kereta peluru di jalur Tohoku Shinkansen antara Stasiun Morioka dan Shin-Aomori sempat dihentikan sementara. Selain itu, lebih dari 300 sekolah terpaksa diliburkan selama satu hari.

Sistem peringatan ini, yang dikenal sebagai “Advisory Gempa Susulan Lepas Pantai Hokkaido dan Sanriku”, mulai diberlakukan pada Desember 2022. Sistem tersebut dikembangkan berdasarkan pelajaran dari gempa dahsyat bermagnitudo 9,0 yang melanda Jepang timur laut pada 11 Maret 2011, yang kemudian disusul gempa bermagnitudo 7,3. Peringatan ini tidak mewajibkan evakuasi pencegahan.

Peristiwa ini menjadi respons bencana besar pertama di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang resmi diluncurkan pada Oktober lalu.

Seorang anggota parlemen oposisi menyoroti bahwa setelah peringatan dikeluarkan, “warga di daerah terdampak tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan untuk bersiap menghadapi situasi seperti ini.”

Takaichi, yang saat ini tinggal di perumahan anggota majelis rendah di distrik Akasaka, Tokyo, berencana segera pindah ke kediaman yang bersebelahan dengan kantor perdana menteri agar dapat menangani krisis dengan lebih cepat dan efektif.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pekerja Tewas Terbakar dalam Tradisi Pembakaran Padang Rumput di Yamaguchi

16 February 2026 - 15:10 WIB

Jepang Minta Data Kewarganegaraan Penghuni Asing Rumah Susun, Alasan Evakuasi dan Ketertiban

16 February 2026 - 14:10 WIB

3 Anak Remaja di Daerah Dotonbori Osaka Jadi Korban Penusukan, 1 Orang Meninggal

16 February 2026 - 11:10 WIB

Bus Kota Kyoto Ubah Sistem Naik-Turun Penumpang Demi Atasi Overcrowding Turis

16 February 2026 - 10:10 WIB

Kagoshima Kucurkan Rp3,5 Triliun untuk Dongkrak Pariwisata, Wisatawan Asing Jadi Kunci

14 February 2026 - 16:10 WIB

Trending on News