Menu

Dark Mode
Yakoh Shinobi Ops Diumumkan! Game Ninja Co-op 4 Pemain dari Shueisha Games & Acquire Siap Meluncur 2027 Kagoshima Kucurkan Rp3,5 Triliun untuk Dongkrak Pariwisata, Wisatawan Asing Jadi Kunci Nekat Curi Kloset dari Gudang, Pria 76 Tahun di Aichi Pakai Sendiri di Rumah Leon Balik Lagi? Trailer Baru Resident Evil Requiem Isyaratkan Kembalinya Raccoon City Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Murah untuk Warga Lokal, Wisatawan Bakal Bayar Lebih Mahal Biaya Ujian JLPT Naik Mulai Juli 2026, Ini Rinciannya

News

Survei 2025: Karyawan Muda di Jepang Paling Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental Akibat Pekerjaan

badge-check


					Survei 2025: Karyawan Muda di Jepang Paling Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental Akibat Pekerjaan Perbesar

Sebuah survei terbaru pada tahun 2025 mengungkap bahwa karyawan berusia belasan hingga dua puluhan tahun di Jepang menjadi kelompok yang paling rentan mengalami masalah kesehatan mental terkait pekerjaan. Menurut hasil survei tersebut, sebanyak 37,6% perusahaan melaporkan bahwa pekerja muda di rentang usia ini mengalami gangguan kesehatan mental, angka yang meningkat dua kali lipat dibandingkan hasil survei pada tahun 2014.

Survei ini dilakukan oleh Japan Productivity Center pada Juli hingga Agustus 2025 melalui metode pos dan daring. Target survei adalah 2.814 perusahaan tercatat di bursa saham Jepang, tidak termasuk pasar berkembang. Dari jumlah tersebut, diperoleh 171 respons valid dengan tingkat respons sebesar 6,1%.

Ini menjadi survei kedua berturut-turut yang menunjukkan bahwa pekerja muda merupakan kelompok dengan tingkat masalah kesehatan mental tertinggi. Sebelumnya, hingga sekitar tahun 2010, pekerja berusia tiga puluhan tercatat sebagai kelompok yang paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental akibat pekerjaan. Namun, sejak 2012, tren tersebut mulai bergeser, dan pada tahun 2023 terlihat lonjakan signifikan pada kelompok usia belasan dan dua puluhan tahun.

Japan Productivity Center menilai bahwa salah satu faktor utama di balik fenomena ini adalah dampak pandemi COVID-19. Banyak pekerja muda yang memulai karier mereka di tengah pandemi harus menjalani sistem kerja jarak jauh. Kondisi ini dinilai membuat mereka kesulitan membangun hubungan interpersonal yang memadai di tempat kerja serta mengembangkan keterampilan kerja secara optimal. Akibatnya, rasa kesepian dan keterasingan di lingkungan kerja semakin meningkat.

Selain itu, survei juga mencatat bahwa 39,2% perusahaan menyatakan masalah kesehatan mental di tempat kerja mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Angka ini masih berada pada tingkat yang sama tingginya dengan survei sebelumnya. Di sisi lain, jumlah perusahaan yang merasa bahwa masalah kesehatan mental justru menurun terus berkurang.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa metode konvensional yang selama ini digunakan perusahaan Jepang untuk menangani masalah kesehatan mental karyawan mungkin sudah tidak lagi efektif. Temuan ini sekaligus menjadi sinyal peringatan bagi dunia kerja di Jepang untuk mengevaluasi kembali sistem dukungan mental, khususnya bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja.

Sc : nippon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kagoshima Kucurkan Rp3,5 Triliun untuk Dongkrak Pariwisata, Wisatawan Asing Jadi Kunci

14 February 2026 - 16:10 WIB

Nekat Curi Kloset dari Gudang, Pria 76 Tahun di Aichi Pakai Sendiri di Rumah

14 February 2026 - 16:10 WIB

Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Murah untuk Warga Lokal, Wisatawan Bakal Bayar Lebih Mahal

14 February 2026 - 14:10 WIB

Biaya Ujian JLPT Naik Mulai Juli 2026, Ini Rinciannya

14 February 2026 - 14:04 WIB

Biaya Berobat di Jepang Bakal Naik Lagi Mulai Juni, Pasien Siap-siap Keluar Uang Lebih

14 February 2026 - 11:10 WIB

Trending on News