Menu

Dark Mode
Turis Asing Diserang Beruang Saat Berjalan di Dekat Danau Towada, Aomori Boruto: Two Blue Vortex Libur Terbit Bulan Ini, Chapter Baru Kembali September 71,7% Warga Jepang Khawatir Kondisi Keuangan Negara Memburuk Usai Pajak Makanan Dipangkas Warga Asing di Kumamoto Kesulitan Dapat Informasi Gempa, Hanya 3 dari 19 Kota Punya Layanan Khusus Menyamar Jadi Orang Asing, Pria Jepang Mencoba Merampok Sebuah Konbini di Gunma Berhasil Ditangkap Polisi Manga Leviathan Bakal Diadaptasi Jadi Film Live-Action, Tayang 2027

News

Survei 2025: Karyawan Muda di Jepang Paling Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental Akibat Pekerjaan

badge-check


					Survei 2025: Karyawan Muda di Jepang Paling Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental Akibat Pekerjaan Perbesar

Sebuah survei terbaru pada tahun 2025 mengungkap bahwa karyawan berusia belasan hingga dua puluhan tahun di Jepang menjadi kelompok yang paling rentan mengalami masalah kesehatan mental terkait pekerjaan. Menurut hasil survei tersebut, sebanyak 37,6% perusahaan melaporkan bahwa pekerja muda di rentang usia ini mengalami gangguan kesehatan mental, angka yang meningkat dua kali lipat dibandingkan hasil survei pada tahun 2014.

Survei ini dilakukan oleh Japan Productivity Center pada Juli hingga Agustus 2025 melalui metode pos dan daring. Target survei adalah 2.814 perusahaan tercatat di bursa saham Jepang, tidak termasuk pasar berkembang. Dari jumlah tersebut, diperoleh 171 respons valid dengan tingkat respons sebesar 6,1%.

Ini menjadi survei kedua berturut-turut yang menunjukkan bahwa pekerja muda merupakan kelompok dengan tingkat masalah kesehatan mental tertinggi. Sebelumnya, hingga sekitar tahun 2010, pekerja berusia tiga puluhan tercatat sebagai kelompok yang paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental akibat pekerjaan. Namun, sejak 2012, tren tersebut mulai bergeser, dan pada tahun 2023 terlihat lonjakan signifikan pada kelompok usia belasan dan dua puluhan tahun.

Japan Productivity Center menilai bahwa salah satu faktor utama di balik fenomena ini adalah dampak pandemi COVID-19. Banyak pekerja muda yang memulai karier mereka di tengah pandemi harus menjalani sistem kerja jarak jauh. Kondisi ini dinilai membuat mereka kesulitan membangun hubungan interpersonal yang memadai di tempat kerja serta mengembangkan keterampilan kerja secara optimal. Akibatnya, rasa kesepian dan keterasingan di lingkungan kerja semakin meningkat.

Selain itu, survei juga mencatat bahwa 39,2% perusahaan menyatakan masalah kesehatan mental di tempat kerja mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Angka ini masih berada pada tingkat yang sama tingginya dengan survei sebelumnya. Di sisi lain, jumlah perusahaan yang merasa bahwa masalah kesehatan mental justru menurun terus berkurang.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa metode konvensional yang selama ini digunakan perusahaan Jepang untuk menangani masalah kesehatan mental karyawan mungkin sudah tidak lagi efektif. Temuan ini sekaligus menjadi sinyal peringatan bagi dunia kerja di Jepang untuk mengevaluasi kembali sistem dukungan mental, khususnya bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja.

Sc : nippon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Turis Asing Diserang Beruang Saat Berjalan di Dekat Danau Towada, Aomori

24 August 2026 - 13:10 WIB

71,7% Warga Jepang Khawatir Kondisi Keuangan Negara Memburuk Usai Pajak Makanan Dipangkas

24 August 2026 - 10:10 WIB

Warga Asing di Kumamoto Kesulitan Dapat Informasi Gempa, Hanya 3 dari 19 Kota Punya Layanan Khusus

24 August 2026 - 07:07 WIB

Menyamar Jadi Orang Asing, Pria Jepang Mencoba Merampok Sebuah Konbini di Gunma Berhasil Ditangkap Polisi

22 August 2026 - 13:28 WIB

Kereta Ekspres Tabrak Pekerja di Jalur Rel Tochigi, 4 Orang Dilaporkan Tewas

21 August 2026 - 12:10 WIB

Trending on News