Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh The Nippon Foundation pada pertengahan Agustus 2025 menunjukkan bahwa mayoritas remaja Jepang mendukung diperkenalkannya sistem opsional nama keluarga terpisah bagi pasangan menikah — sebuah isu yang telah lama menjadi bahan perdebatan di Jepang.
Survei tersebut melibatkan 1.000 remaja berusia 17 hingga 19 tahun, dan hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 90% responden mengetahui adanya gagasan sistem ini, dengan sekitar 70% menyatakan tertarik terhadap penerapannya.
Menurut hukum sipil Jepang saat ini, pasangan yang menikah harus menggunakan nama keluarga yang sama, dan dalam 94% kasus, pihak perempuanlah yang mengganti nama keluarganya.
Namun, hanya 20,5% responden yang berpendapat bahwa sistem saat ini “sebaiknya dipertahankan”, termasuk hanya 12,9% perempuan. Sebaliknya, lebih dari separuh responden perempuan (53%) mendukung adanya pilihan untuk mempertahankan nama keluarga masing-masing setelah menikah.
Alasan Pendukung dan Penentang
Di antara mereka yang mendukung sistem nama keluarga terpisah, alasan paling umum adalah:
-
“Ada banyak jenis keluarga di zaman sekarang” (55,0%)
-
“Memiliki pilihan itu penting di era modern” (43,7%)
-
“Mengganti nama itu merepotkan” (19,7%)
Sementara itu, kelompok yang ingin mempertahankan sistem nama keluarga bersama paling banyak menyoroti kekhawatiran tentang nama anak-anak (36,4%). Sekitar 31,8% merasa bahwa izin untuk terus menggunakan nama sebelum menikah sudah cukup, dengan perbedaan mencolok antara 47,7% perempuan dan 19,1% laki-laki. Hanya 13,1% yang menyatakan bahwa “nama keluarga yang sama menciptakan rasa kebersamaan dalam keluarga.”
Sikap terhadap Pernikahan Pribadi
Ketika ditanya nama keluarga apa yang akan mereka pilih setelah menikah, hanya 2,6% responden yang menjawab akan memilih nama terpisah. Sementara itu, 38,9% menyatakan akan menggunakan nama keluarga yang sama, dan 36,4% memilih untuk mendiskusikan hal tersebut dengan pasangan terlebih dahulu.
Menariknya, di kalangan perempuan, 45,2% mengatakan akan mengambil nama keluarga pasangannya — menunjukkan bahwa meskipun banyak yang mendukung opsi nama terpisah secara prinsip, norma sosial tradisional masih memiliki pengaruh kuat dalam praktiknya.
Survei ini menggambarkan adanya pergeseran pandangan generasi muda Jepang terhadap struktur keluarga dan kesetaraan gender, meskipun masih ada kesenjangan antara dukungan terhadap kebebasan memilih dan pilihan pribadi ketika menikah.
Sc : nippon







