Menu

Dark Mode
Trailer Baru Ranma ½ Season 3 Dirilis, Tayang Oktober 2026 di Netflix MAPPA Rilis Teaser Baru Chainsaw Man: Assassins Arc, Tatsuya Yoshihara Kembali Jadi Sutradara Jepang Mulai Reklamasi Laut Okinawa untuk Relokasi Pangkalan Militer AS yang Kontroversial Layanan Tokaido Shinkansen Dihentikan Setelah Seseorang Masuk ke Jalur Rel di Hamamatsu Jepang Naikkan Biaya Visa Single Entry hingga 5 Kali Lipat Mulai Juli 2026 Kebakaran di SD Tokyo, 10 Orang Terluka dan Ratusan Siswa Dievakuasi

News

Terjepit Sistem Magang Jepang, Pekerja Vietnam Terancam Penertiban Imigrasi

badge-check


					Terjepit Sistem Magang Jepang, Pekerja Vietnam Terancam Penertiban Imigrasi Perbesar

Selama hampir satu dekade, Minh — nama samaran untuk melindungi identitasnya bekerja di berbagai pekerjaan berat di Jepang, mulai dari sandblasting kapal hingga pengelasan baja, membantu menutup kekurangan tenaga kerja akibat populasi Jepang yang menua dengan cepat.

Namun kini, Minh justru berada dalam ancaman penertiban pekerja ilegal yang dijanjikan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, setelah ia diketahui melewati masa berlaku visanya.

Minh datang ke Jepang pada 2015 melalui Technical Intern Training Program (TITP), program magang resmi pemerintah Jepang yang diklaim bertujuan mengajarkan keterampilan kepada pekerja dari negara berkembang. Namun, para pengkritik menilai program ini kerap menjadi cara Jepang mendapatkan tenaga kerja murah yang rentan terhadap utang dan eksploitasi.

“Banyak orang Jepang hanya melihat permukaannya saja bahwa orang asing melakukan kejahatan,” ujar Minh kepada AFP.
“Mereka tidak memikirkan akar masalahnya: bagaimana dan mengapa para pekerja asing bisa sampai ke titik itu.”

Utang Besar dan Jalan Buntu

Dari sekitar 450 ribu peserta TITP di Jepang per Juni 2025, hampir setengahnya berasal dari Vietnam, tersebar di sektor pertanian, konstruksi, dan pengolahan makanan.

Banyak dari mereka datang dengan utang besar akibat biaya agen dan perantara. Minh sendiri harus menanggung utang sekitar US$7.500, berharap bisa melunasinya dan mengirim uang ke keluarga di kampung halaman.

Namun setelah masa magangnya berakhir, lapangan kerja di Vietnam terbatas, sementara mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja tak berdokumen di Jepang justru lebih mudah.

“Tanpa pekerja asing seperti kami, ekonomi Jepang tidak mungkin berjalan,” kata pria berusia 30 tahun itu.

Tekanan Sosial dan Sentimen Negatif

Meski tingkat imigrasi Jepang masih rendah dibanding negara maju lain, jumlah pekerja asing kini mencapai rekor tertinggi, dipicu oleh krisis tenaga kerja, angka kelahiran yang sangat rendah, serta populasi lanjut usia.

Di sisi lain, kenaikan biaya hidup dan stagnasi upah memicu sentimen negatif terhadap pekerja asing.

“Kemarahan atas kesulitan ekonomi warga Jepang sering dilampiaskan kepada orang asing,” kata Jiho Yoshimizu, pimpinan LSM di Tokyo yang membantu warga Vietnam.

Pemerintah Jepang berencana mengumumkan paket kebijakan baru bulan ini, termasuk pengawasan visa yang lebih ketat.

Meski begitu, data kepolisian menunjukkan bahwa proporsi kejahatan oleh warga asing relatif kecil. Dari sekitar 190 ribu orang yang ditangkap pada 2024, hanya 5,5 persen merupakan warga non-Jepang.

Namun di antara warga asing yang ditangkap, warga Vietnam menduduki posisi teratas, sebagian besar karena kasus pencurian — seiring melonjaknya jumlah pekerja Vietnam hingga sembilan kali lipat dalam satu dekade.

Sistem yang Memaksa Bertahan atau Kabur

Menurut Yoshimizu, banyak peserta TITP yang terjebak dalam kondisi kerja buruk, mulai dari upah rendah, tempat tinggal tak layak, hingga pelecehan seksual. Aturan program juga membatasi mereka untuk pindah perusahaan, meski mengalami masalah serius.

Tahun lalu, sekitar 6.500 peserta magang dilaporkan menghilang dari tempat kerja mereka.

Sebagian bergabung dalam komunitas Facebook bernama “Bodoi”, tempat berbagi informasi soal pekerjaan ilegal, sementara yang lain terjerumus ke kejahatan karena tidak menemukan jalan keluar.

Pemerintah Jepang berencana mengganti TITP dengan sistem baru pada 2027, yang memungkinkan perpindahan kerja lebih fleksibel namun mensyaratkan kemampuan bahasa Jepang yang lebih tinggi.

Namun, melemahnya nilai yen dan meningkatnya persaingan dari negara seperti Korea Selatan membuat Jepang semakin kehilangan daya tarik bagi pekerja asing berkualitas.

“Satu Berita Buruk Bisa Merusak Segalanya”

Biksuni Vietnam Thich Tam Tri, yang mengelola tempat perlindungan bagi pekerja Vietnam bermasalah di utara Tokyo, menegaskan bahwa sebagian memang membuat keputusan buruk. Namun ia menekankan kontribusi besar para pekerja magang bagi Jepang.

“Sangat menyakitkan melihat satu berita buruk bisa membuat masyarakat Jepang langsung berprasangka,” ujarnya.

Pada Juli lalu, seorang peserta magang Vietnam ditangkap atas kasus perampokan dan pembunuhan seorang perempuan Jepang — insiden yang memperburuk citra komunitas pekerja Vietnam.

“Karena itu kami harus melakukan sebanyak mungkin hal baik untuk memulihkan kepercayaan masyarakat Jepang,” katanya.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Mulai Reklamasi Laut Okinawa untuk Relokasi Pangkalan Militer AS yang Kontroversial

20 June 2026 - 12:10 WIB

Layanan Tokaido Shinkansen Dihentikan Setelah Seseorang Masuk ke Jalur Rel di Hamamatsu

20 June 2026 - 10:10 WIB

Jepang Naikkan Biaya Visa Single Entry hingga 5 Kali Lipat Mulai Juli 2026

20 June 2026 - 06:54 WIB

Kebakaran di SD Tokyo, 10 Orang Terluka dan Ratusan Siswa Dievakuasi

19 June 2026 - 14:50 WIB

Shinkansen Bertema Disney Mulai Beroperasi, Rayakan HUT ke-25 Tokyo DisneySea

19 June 2026 - 13:56 WIB

Trending on News