Menu

Dark Mode
Jepang Mulai Biayai Program Adaptasi WNA, Fokus pada Aturan Lokal dan Kehidupan Sehari-hari Trailer Film Live-Action “Street Fighter” Rilis, Jason Momoa Jadi Blanka! Honda Jual Mobil Listrik Buatan China di Jepang, Pertama Kalinya untuk Pasar Domestik Jalur Alpen Tateyama Kembali Dibuka, Tembok Salju Setinggi 12 Meter Jadi Daya Tarik Kasus Bocah Hilang di Kyoto Terungkap, Ayah Tiri Akui Membunuh Korban Sekuel “Godzilla Minus One” Resmi Diumumkan, Berlatar 1949 dan Tayang 2026

News

Toyota dan Mitsubishi Larang Penggunaan AI Generatif DeepSeek karena Kekhawatiran Keamanan Data

badge-check


					Toyota dan Mitsubishi Larang Penggunaan AI Generatif DeepSeek karena Kekhawatiran Keamanan Data Perbesar

Toyota Motor Corp. dan Mitsubishi Heavy Industries Ltd. telah melarang karyawan mereka menggunakan model kecerdasan buatan (AI) generatif DeepSeek, yang dikembangkan oleh startup asal Tiongkok, DeepSeek. Larangan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di kalangan perusahaan Jepang terkait keamanan data yang diproses oleh teknologi tersebut.

DeepSeek, yang dirilis pada Januari 2024, mendapat perhatian global karena diklaim memiliki kemampuan setara dengan ChatGPT milik OpenAI dengan biaya pengembangan yang lebih rendah. Namun, pembatasan terhadap penggunaannya semakin meluas, baik di Jepang maupun di negara lain. Pemerintah Jepang juga telah mengimbau perusahaan untuk berhati-hati, karena data yang dikumpulkan oleh AI ini disimpan di server di Tiongkok dan tunduk pada hukum di negara tersebut.

Toyota, sebagai produsen mobil terbesar di dunia berdasarkan volume, secara tegas melarang penggunaan DeepSeek. Seorang pejabat perusahaan mengatakan, “Kami memiliki kekhawatiran dari sudut pandang keamanan informasi.”

Mitsubishi Heavy, yang merupakan perusahaan besar di sektor pertahanan Jepang, juga melarang karyawannya menggunakan DeepSeek untuk keperluan pekerjaan.

Langkah serupa diambil oleh beberapa perusahaan besar Jepang lainnya:

  • SoftBank Corp., perusahaan telekomunikasi Jepang, membatasi akses ke DeepSeek dari dalam jaringan perusahaan dan melarang pengunduhan atau penggunaannya di perangkat bisnis karyawan.
  • Sebuah produsen material utama menyatakan bahwa risiko DeepSeek lebih tinggi dibandingkan model AI lainnya yang digunakan perusahaan.
  • Sebuah perusahaan manufaktur perumahan besar juga mempertimbangkan risiko kebocoran data serta kemungkinan data mereka digunakan untuk pembelajaran AI di masa depan.

Sebagian besar perusahaan Jepang hanya mengizinkan penggunaan layanan AI tertentu, terutama yang dikembangkan oleh perusahaan Amerika Serikat.

Pemerintah Tiongkok sendiri telah mengkritik berbagai upaya pembatasan terhadap DeepSeek, menolak klaim bahwa ada risiko kebocoran data ke pihak berwenang Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok sangat mementingkan privasi dan keamanan data serta melindunginya sesuai dengan hukum. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah meminta perusahaan atau individu mana pun untuk mengumpulkan atau menyimpan data secara melanggar hukum,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, dalam konferensi pers pekan lalu.

Namun, kekhawatiran terkait keamanan DeepSeek tetap ada, terutama karena Undang-Undang Intelijen Nasional Tiongkok yang berlaku sejak 2017. Undang-undang ini mewajibkan bisnis untuk bekerja sama dengan otoritas nasional dalam pengumpulan informasi, yang semakin memperkuat alasan perusahaan Jepang dalam membatasi penggunaan AI generatif asal Tiongkok ini.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Mulai Biayai Program Adaptasi WNA, Fokus pada Aturan Lokal dan Kehidupan Sehari-hari

20 April 2026 - 10:10 WIB

Jalur Alpen Tateyama Kembali Dibuka, Tembok Salju Setinggi 12 Meter Jadi Daya Tarik

17 April 2026 - 10:10 WIB

Kasus Bocah Hilang di Kyoto Terungkap, Ayah Tiri Akui Membunuh Korban

17 April 2026 - 09:42 WIB

Suntory Akuisisi Perusahaan Obat Jepang Rp25 Triliun, Bidik Bisnis Kesehatan

16 April 2026 - 14:10 WIB

Bocah 11 Tahun yang Hilang di Kyoto Ditemukan Meninggal, Polisi Selidiki Dugaan Kejahatan

16 April 2026 - 11:10 WIB

Trending on News