Pengalaman menikmati sushi di Jepang kini hadir dengan cara yang tidak biasa. Tokyo memiliki bus wisata bertingkat dua yang memungkinkan penumpangnya menikmati sushi dari conveyor belt sambil berkeliling melihat berbagai tempat terkenal di ibu kota Jepang tersebut. Layanan bernama Sushi Bus ini mulai beroperasi pada Sabtu.
Bus ini menawarkan pengalaman bersantap sushi di lantai dua, sementara penumpang dapat memilih sendiri piring sushi yang melintas di atas ban berjalan, seperti saat makan di restoran sushi conveyor belt pada umumnya.
Bus berkapasitas 20 penumpang ini dilengkapi atap yang dapat dibuka dan menawarkan paket makan sushi sepuasnya. Setiap perjalanan berlangsung sekitar 70 menit. Harga tiketnya dipatok sebesar 16.000 yen untuk kursi reguler dan 20.000 yen untuk kursi di bagian depan bus.
Sushi Diantar dari Dapur ke Lantai Dua
Dalam uji coba untuk media pada 1 Oktober, staf dapur yang berada di lantai pertama menyiapkan piring-piring sushi, lalu meletakkannya di atas lift kecil untuk mengirim makanan ke lantai dua.
Setelah sampai, staf lainnya menempatkan piring-piring tersebut di atas conveyor belt yang bergerak melewati meja penumpang. Dengan begitu, penumpang dapat memilih sushi yang mereka inginkan sambil menikmati perjalanan.
Bus berangkat dari lokasi di dekat Stasiun Tokyo. Rutenya melewati kawasan perbelanjaan Ginza yang terkenal dan memberikan kesempatan kepada penumpang untuk melihat Tokyo Tower serta berbagai tempat menarik lainnya dari dekat.
Penampilan bus ini juga menarik perhatian orang-orang di jalan. Banyak pejalan kaki yang sempat terkejut ketika melihatnya, sebelum menyadari bahwa seluruh kendaraan dihias menyerupai sepotong sushi.
Saat bus berhenti di lampu lalu lintas, para staf turut berinteraksi dengan orang-orang yang menonton. Mereka mengangkat papan, mengajak orang-orang melambaikan tangan, dan mempersilakan mereka mengambil foto.
Ide Bisnis yang Sulit Ditiru
Sushi Bus Inc. merupakan usaha wisata terbaru yang dikembangkan oleh pendirinya, Tomoyuki Yano, 40 tahun. Ia mengatakan bahwa dirinya bukan tipe orang yang sekadar mengikuti tren atau meniru apa yang sedang dilakukan orang lain.
Pada 2016, Yano mendirikan tur bertema ninja, yang kemudian dikembangkan dengan membuka kafe ninja. Meski sejak itu semakin banyak pengalaman wisata bertema ninja bermunculan, ia menilai belum ada pihak lain yang menawarkan konsep makan sushi conveyor belt di dalam bus wisata.
“Saya ingin mengembangkan model bisnis yang sulit ditiru orang lain,” kata Yano.
Setelah memutuskan menggunakan bus sebagai sarana wisata, Yano mulai memikirkan makanan yang cocok disajikan selama perjalanan.
“Ramen terasa terlalu panas dan terlalu berisiko,” ujarnya, merujuk pada hidangan mi berkuah yang populer di Jepang.
Menurutnya, sushi lebih praktis karena dapat dimakan dalam satu suapan dan dinikmati hanya dengan satu tangan. Hal itu membuat sushi dinilai lebih cocok disajikan di dalam kendaraan yang sedang berjalan.
Pengembangan Memakan Waktu Lebih dari Dua Tahun
Meski terdengar menarik, mewujudkan ide ini bukan perkara mudah. Konsepnya yang tidak biasa membuat Yano menghadapi kesulitan dalam mencari mitra kerja sama dan memenuhi berbagai persyaratan perizinan.
Menurut Yano, proses menyiapkan tur bus tersebut memakan waktu lebih dari dua tahun dengan biaya pengembangan lebih dari 100 juta yen.
Salah satu tantangan terbesarnya adalah memastikan piring sushi tetap aman di atas conveyor belt ketika bus bergerak maupun saat harus berhenti mendadak.
Tim pengembang melakukan lebih dari 100 kali pengujian khusus pada conveyor belt untuk memastikan piring tidak mudah bergeser atau terjatuh. Mereka akhirnya menggunakan baki plastik khusus yang dapat dikunci pada ban berjalan agar piring tetap berada di tempatnya, termasuk ketika bus melakukan pengereman mendadak.
Karena ikan tidak dapat dipotong dengan aman di dalam bus yang sedang berjalan, bahan ikan yang digunakan sudah dipotong terlebih dahulu sebelum dibawa ke kendaraan.
Yano juga mengatakan bahwa porsi sushi yang disajikan lebih besar dibandingkan porsi di restoran conveyor belt biasa. Menurutnya, hidangan tersebut harus mampu bersaing dengan pemandangan kota yang dinikmati penumpang selama perjalanan.
Bukan Sekadar Atraksi Wisata
Meski konsepnya terkesan unik dan menghibur, Yano menegaskan bahwa Sushi Bus bukan sekadar atraksi untuk menarik perhatian wisatawan.
Ia mengakui bahwa anggapan tersebut menjadi salah satu tantangan yang kerap harus dihadapinya. Namun, harga tiket yang ditawarkan memungkinkan perusahaan mengeluarkan biaya lebih besar untuk bahan makanan.
Yano menyebut kualitas sushi yang disajikan telah mencapai tingkat yang tidak jauh berbeda dari sushi di restoran tradisional.
Melalui konsep ini, Sushi Bus berupaya menggabungkan pengalaman kuliner khas Jepang dengan wisata keliling Tokyo, sehingga penumpang dapat menikmati sushi sekaligus melihat sejumlah landmark terkenal di kota tersebut dalam satu perjalanan.








