Menu

Dark Mode
Game Baru Sword Art Online: Echoes of Aincrad Umumkan Jadwal Rilis dan Detail Edisi Manga Kemono Jihen Akan Diadaptasi Jadi Pertunjukan Teater, Angkat Arc Tokyo Kasus Ganja di Jepang Capai Rekor Tertinggi 2025, Mayoritas Pelaku Anak Muda Ekspansi Bandara Narita Terancam Molor, Pemerintah Pertimbangkan Pengadaan Lahan Secara Paksa Harga Tiket Pesawat ANA, JAL Rute Internasional dari Jepang Diperkirakan Naik hingga 100% Akibat Lonjakan Harga BBM Jepang Uji Daur Ulang Popok Bekas Jadi Produk Baru, Solusi untuk Limbah dan Populasi Menua

News

Valentine di Jepang Kian Sepi? Semakin Banyak Perempuan Pilih Tak Beli Cokelat karena Harga Makin Mahal

badge-check


					Valentine di Jepang Kian Sepi? Semakin Banyak Perempuan Pilih Tak Beli Cokelat karena Harga Makin Mahal Perbesar

Semakin sedikit perempuan di Jepang yang berencana memberikan cokelat pada Hari Valentine tahun ini. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari membuat banyak orang menahan pengeluaran, termasuk untuk tradisi tahunan yang selama ini identik dengan cokelat dan hadiah.

Berdasarkan survei terbaru perusahaan riset pasar Intage Inc, sebanyak 42,8 persen responden menyatakan tidak memiliki rencana memberi cokelat pada Valentine. Angka ini naik 4 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Survei tersebut melibatkan 2.500 perempuan dan remaja perempuan berusia 15 hingga 79 tahun, dan dilakukan pada 14–19 Januari.

Di Jepang, Hari Valentine secara tradisional dirayakan dengan perempuan memberikan cokelat kepada pria, mulai dari pasangan, ayah, hingga rekan kerja. Selain itu, ada pula kebiasaan saling bertukar cokelat dengan teman.

Hasil survei menunjukkan penurunan terbesar terjadi pada pemberian cokelat untuk anggota keluarga, yang turun 4,4 poin dibandingkan 2025 menjadi 38,7 persen. Pemberian cokelat kepada teman juga menurun 2,1 poin menjadi 11,2 persen, sementara cokelat “kewajiban” untuk rekan kerja turun 1,3 poin menjadi 7,9 persen.

Penolakan terhadap tradisi cokelat wajib di kantor terlihat semakin kuat. Dari 787 responden perempuan yang bekerja, 85,4 persen menyatakan tidak ingin ikut memberikan cokelat kepada rekan kerja pria. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak survei serupa pertama kali dilakukan pada 2022.

Di sisi lain, tren membeli cokelat untuk diri sendiri hampir tidak berubah. Persentase perempuan yang berencana membeli cokelat untuk konsumsi pribadi justru naik tipis 0,3 poin menjadi 21,3 persen.

Menariknya, meski jumlah pemberi cokelat menurun, rata-rata pengeluaran untuk cokelat Valentine justru naik 8,1 persen menjadi 4.943 yen. Namun, semakin sedikit responden yang menyatakan ingin membeli produk cokelat berkualitas tinggi, mengindikasikan bahwa inflasi mulai menekan pembelian barang-barang yang bersifat mewah.

Survei terpisah dari Teikoku Databank Ltd juga menunjukkan harga cokelat Valentine terus naik. Rata-rata harga satu buah cokelat meningkat 4 persen dibandingkan tahun lalu menjadi 436 yen, dipicu oleh tingginya harga kakao dan biaya impor akibat melemahnya nilai yen. Sebagai perbandingan, pada 2022 harga rata-rata cokelat Valentine masih berada di kisaran 355 yen.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kasus Ganja di Jepang Capai Rekor Tertinggi 2025, Mayoritas Pelaku Anak Muda

3 April 2026 - 12:10 WIB

Ekspansi Bandara Narita Terancam Molor, Pemerintah Pertimbangkan Pengadaan Lahan Secara Paksa

3 April 2026 - 10:10 WIB

Harga Tiket Pesawat ANA, JAL Rute Internasional dari Jepang Diperkirakan Naik hingga 100% Akibat Lonjakan Harga BBM

3 April 2026 - 07:10 WIB

Jepang Uji Daur Ulang Popok Bekas Jadi Produk Baru, Solusi untuk Limbah dan Populasi Menua

2 April 2026 - 18:10 WIB

Warga Asing Makin Banyak, Kitakyushu Tunjuk Koordinator Multikultural untuk Perkuat Interaksi Warga Lokal dengan Asing

2 April 2026 - 13:10 WIB

Trending on News