Menu

Dark Mode
Pekerja Tewas Terbakar dalam Tradisi Pembakaran Padang Rumput di Yamaguchi Jepang Minta Data Kewarganegaraan Penghuni Asing Rumah Susun, Alasan Evakuasi dan Ketertiban 3 Anak Remaja di Daerah Dotonbori Osaka Jadi Korban Penusukan, 1 Orang Meninggal Bus Kota Kyoto Ubah Sistem Naik-Turun Penumpang Demi Atasi Overcrowding Turis Anime Marriage Toxin Resmi Tayang Mulai 7 April, Produksi Studio BONES Film Yakoh Shinobi Ops Diumumkan! Game Ninja Co-op 4 Pemain dari Shueisha Games & Acquire Siap Meluncur 2027

News

Warga Nepal Jadi Komunitas Asing Terbesar di Fukuoka, Lampaui Warga Tiongkok

badge-check


					Nepal Festival Fukuoka 2024 Perbesar

Nepal Festival Fukuoka 2024

Warga negara Nepal kini menjadi kelompok penduduk asing terbesar di Kota Fukuoka untuk pertama kalinya. Berdasarkan data pemerintah kota hingga akhir April, jumlah warga Nepal mencapai 13.535 orang, sedikit melampaui jumlah warga Tiongkok yang tercatat sebanyak 13.505 orang.

Jumlah penduduk Nepal di Fukuoka meningkat sangat pesat dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2000, hanya ada 46 warga Nepal yang tinggal di kota ini. Artinya, populasinya melonjak hampir 300 kali lipat. Kenaikan tajam ini dinilai mencerminkan meningkatnya minat generasi muda Nepal untuk belajar dan bekerja di Jepang, di tengah ketidakstabilan politik dan terbatasnya lapangan pekerjaan di negara asal mereka.

Data kota dan statistik lainnya menunjukkan bahwa sejak tahun 1960-an hingga sekitar tahun 2000, mayoritas penduduk asing di Fukuoka adalah warga Korea. Setelah itu, dari 2002 hingga 2024, posisi tersebut didominasi oleh warga Tiongkok. Namun sejak sekitar 2012, jumlah penduduk dari Nepal dan Vietnam meningkat dengan cepat. Hingga akhir Oktober 2025, jumlah warga Nepal di Fukuoka bahkan telah mencapai 14.380 orang.

Survei Kota Fukuoka pada tahun fiskal 2024 terhadap penduduk asing yang tinggal kurang dari lima tahun menunjukkan bahwa 40 persen dari 427 responden memiliki visa pelajar, baik di sekolah bahasa Jepang, universitas, maupun junior college. Khusus untuk warga Nepal, sekitar 80 persen merupakan pelajar, dan hampir setengahnya, yakni 47,9 persen, terdaftar di sekolah bahasa Jepang. Angka ini menjadi proporsi terbesar di antara warga Nepal.

Menurut Hiroki Nagata, kepala Fukuoka Japanese Language School di Distrik Minami, sekolah bahasa Jepang di Fukuoka sempat terdampak penurunan jumlah siswa asal Tiongkok akibat isu seperti sengketa Kepulauan Senkaku pada tahun 2010-an. Sebagai respons, sekolah-sekolah tersebut kemudian memperkuat upaya perekrutan siswa dari Nepal dan Vietnam.

Nagata menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mendorong peningkatan jumlah pelajar Nepal di Fukuoka. Di antaranya adalah banyaknya sekolah bahasa Jepang di prefektur tersebut, serta cerita dari mulut ke mulut mengenai alumni yang berhasil mendapatkan pekerjaan setelah belajar di Fukuoka. Selain itu, banyak pelajar Nepal yang belajar sambil bekerja paruh waktu, dan Fukuoka dinilai menarik karena biaya hidupnya relatif lebih rendah dibandingkan Tokyo atau Osaka.

Sebagian besar pelajar Nepal di Fukuoka Japanese Language School berusia remaja hingga awal 20-an. Nagata mengatakan, kondisi politik yang tidak stabil dan minimnya peluang kerja di Nepal membuat anak muda merasa terpaksa pergi ke luar negeri. Mereka datang ke Jepang untuk mencari harapan, pencapaian, dan masa depan yang lebih baik. Banyak di antara mereka menempuh pendidikan bahasa Jepang selama dua tahun sebelum melanjutkan ke sekolah kejuruan di bidang seperti perawatan otomotif, keperawatan lansia, dan bisnis, dengan tujuan akhirnya bekerja di Jepang.

Jumlah total penduduk asing di Fukuoka mencapai rekor tertinggi, yaitu 57.995 orang per akhir November 2025, berdasarkan data daftar penduduk dasar kota. Menyikapi tren ini, pemerintah kota mendirikan Bagian Kohesi Multikultural pada April 2025 untuk memastikan warga asing dan penduduk lokal dapat hidup dengan aman dan nyaman berdampingan.

Pemerintah kota juga membagikan “welcome kit” multibahasa yang berisi informasi praktis dan kontak konsultasi kepada warga asing yang mengurus kepindahan. Selain itu, kelas penyuluhan rutin digelar di sekolah bahasa Jepang untuk membahas aturan pembuangan sampah, etika berlalu lintas, serta kehidupan sehari-hari di Jepang. Berbagai acara pertukaran budaya pun diselenggarakan di seluruh Fukuoka guna mendorong interaksi dan saling pengertian antara masyarakat lokal dan komunitas asing.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pekerja Tewas Terbakar dalam Tradisi Pembakaran Padang Rumput di Yamaguchi

16 February 2026 - 15:10 WIB

Jepang Minta Data Kewarganegaraan Penghuni Asing Rumah Susun, Alasan Evakuasi dan Ketertiban

16 February 2026 - 14:10 WIB

3 Anak Remaja di Daerah Dotonbori Osaka Jadi Korban Penusukan, 1 Orang Meninggal

16 February 2026 - 11:10 WIB

Bus Kota Kyoto Ubah Sistem Naik-Turun Penumpang Demi Atasi Overcrowding Turis

16 February 2026 - 10:10 WIB

Kagoshima Kucurkan Rp3,5 Triliun untuk Dongkrak Pariwisata, Wisatawan Asing Jadi Kunci

14 February 2026 - 16:10 WIB

Trending on News