Menu

Dark Mode
Season 2 Saga of Tanya the Evil Siap Tayang Tahun 2026, Rilis Teaser Baru Mulai April 2026, Orang Tua yang Cerai di Jepang Wajib Bayar Nafkah Anak ¥20.000 per Bulan Manga “SHION” Dapat Adaptasi Anime Mulai 1 Desember Pengadilan Tinggi Tokyo Putuskan Larangan Nikah Sesama Jenis Masih Sesuai Konstitusi Jepang Jumlah Petani Jepang Anjlok 25% dalam Lima Tahun, Picu Kekhawatiran Ketahanan Pangan Kadokawa Rilis Manga Baru “Tsukuru Niwa” Karya Mikanuji di Comic Newtype

Teknologi

62% Siswa SMA di Jepang Pakai Pembayaran Cashless, Orang Tua Khawatir Anak Boros

badge-check


					62% Siswa SMA di Jepang Pakai Pembayaran Cashless, Orang Tua Khawatir Anak Boros Perbesar

Pembayaran cashless semakin populer di kalangan siswa SMA di Jepang. Menurut survei MMD Labo Inc. yang dilakukan pada Juli lalu terhadap 1.114 siswa berusia 15–18 tahun, 62,1% siswa sudah pernah menggunakan pembayaran cashless dalam 6 bulan terakhir.

Metode paling banyak dipakai adalah pembayaran dengan QR code (50,8%), mengalahkan e-money tanpa kontak dan kartu kredit dengan sistem tap.

Dari 300 siswa yang memakai QR code payment, 74,7% menggunakannya untuk transfer ke keluarga, misalnya untuk uang saku atau penggantian biaya belanja keluarga.

Contohnya, seorang ayah 56 tahun di Tokyo memberikan separuh dari uang saku bulanan anaknya (4.000 yen atau sekitar Rp370 ribu) lewat aplikasi PayPay. Sang anak merasa lebih praktis untuk urusan patungan dengan teman atau belanja tanpa bawa dompet. Tapi ayahnya khawatir karena uang digital itu cepat habis. “Biasanya dalam seminggu sudah habis. Saya takut anak jadi lebih boros karena terlalu gampang dipakai,” ujarnya.

Menurut Yoko Yagi, perencana keuangan sekaligus ketua Kid’s Money Station, pembayaran cashless memang praktis, tapi membuat anak-anak sulit merasakan nilai uang yang sebenarnya. Kalau uang tunai jelas terlihat saat berpindah tangan, sementara cashless hanya berupa angka di layar. Akibatnya, rasa “sayang uang” bisa berkurang.

Yagi menyarankan orang tua tetap memulai dengan uang saku tunai agar anak paham nilai uang, lalu bertahap mengenalkan cashless. Ia juga mengingatkan bahaya penggunaan layanan bayar tunda (deferred payment) tanpa pengawasan orang tua, karena bisa memicu masalah keuangan.

“Yang paling penting adalah membangun komunikasi terbuka soal uang antara orang tua dan anak. Dengan begitu, anak bisa belajar mengatur keuangan sekaligus merasa aman untuk bertanya ketika menghadapi masalah,” kata Yagi.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

JR Central Akan Uji Layanan AI Multibahasa untuk Turis di Stasiun Shinagawa Desember Mendatang

25 November 2025 - 14:10 WIB

Pemerintah Jepang Uji Coba Shuttle Self-Driving untuk Mobilitas Pejabat Pemerintahan

19 November 2025 - 15:10 WIB

Sony Luncurkan PS5 Versi Khusus Jepang dengan Harga Turun 25% untuk Bersaing dengan Nintendo Switch 2

13 November 2025 - 16:21 WIB

Otoritas Ungkap Penyebab Bus Tanpa Sopir di Tokyo Tabrak Pohon Akibat Kesalahan Sistem Navigasi

12 November 2025 - 11:10 WIB

Polisi Tokyo Manfaatkan AI dan Drone untuk Tangani Kasus Stalker dan Bencana

7 November 2025 - 17:10 WIB

Trending on Teknologi