Menu

Dark Mode
Restoran Tradisional di Kyoto Raih 3 Bintang Michelin Pertama dalam 6 Tahun Kepanikan di Kereta JR Jepang, 3 Orang Sekeluarga Dilarikan ke Rumah Sakit Timnas Indonesia Masuk Grup F di Piala Asia 2027, Hadapi Jepang hingga Qatar Prefektur Ibaraki Jepang Mulai Kasih Imbalan Uang untuk Pelapor Pekerja Asing Ilegal Meru Nukumi Gabung Serial Live-Action Baru GTO, Jadi Guru Pendamping Kelas Onizuka Miyazaki Perkuat Kerja Sama dengan Indonesia untuk Perekrutan Tenaga Kerja

Teknologi

62% Siswa SMA di Jepang Pakai Pembayaran Cashless, Orang Tua Khawatir Anak Boros

badge-check


					62% Siswa SMA di Jepang Pakai Pembayaran Cashless, Orang Tua Khawatir Anak Boros Perbesar

Pembayaran cashless semakin populer di kalangan siswa SMA di Jepang. Menurut survei MMD Labo Inc. yang dilakukan pada Juli lalu terhadap 1.114 siswa berusia 15–18 tahun, 62,1% siswa sudah pernah menggunakan pembayaran cashless dalam 6 bulan terakhir.

Metode paling banyak dipakai adalah pembayaran dengan QR code (50,8%), mengalahkan e-money tanpa kontak dan kartu kredit dengan sistem tap.

Dari 300 siswa yang memakai QR code payment, 74,7% menggunakannya untuk transfer ke keluarga, misalnya untuk uang saku atau penggantian biaya belanja keluarga.

Contohnya, seorang ayah 56 tahun di Tokyo memberikan separuh dari uang saku bulanan anaknya (4.000 yen atau sekitar Rp370 ribu) lewat aplikasi PayPay. Sang anak merasa lebih praktis untuk urusan patungan dengan teman atau belanja tanpa bawa dompet. Tapi ayahnya khawatir karena uang digital itu cepat habis. “Biasanya dalam seminggu sudah habis. Saya takut anak jadi lebih boros karena terlalu gampang dipakai,” ujarnya.

Menurut Yoko Yagi, perencana keuangan sekaligus ketua Kid’s Money Station, pembayaran cashless memang praktis, tapi membuat anak-anak sulit merasakan nilai uang yang sebenarnya. Kalau uang tunai jelas terlihat saat berpindah tangan, sementara cashless hanya berupa angka di layar. Akibatnya, rasa “sayang uang” bisa berkurang.

Yagi menyarankan orang tua tetap memulai dengan uang saku tunai agar anak paham nilai uang, lalu bertahap mengenalkan cashless. Ia juga mengingatkan bahaya penggunaan layanan bayar tunda (deferred payment) tanpa pengawasan orang tua, karena bisa memicu masalah keuangan.

“Yang paling penting adalah membangun komunikasi terbuka soal uang antara orang tua dan anak. Dengan begitu, anak bisa belajar mengatur keuangan sekaligus merasa aman untuk bertanya ketika menghadapi masalah,” kata Yagi.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Universitas di Tokyo Buka Laboratorium Tanpa Peneliti Manusia, Semua Eksperimen Dilakukan Robot

11 May 2026 - 10:10 WIB

Lexus Luncurkan SUV Listrik 3 Baris Pertama, Siap Rilis di Jepang Musim Dingin

8 May 2026 - 10:10 WIB

Robot Haro dari Anime Mobile Suit Gundam Akan Dikirim ke Luar Angkasa oleh Startup Jepang

7 May 2026 - 10:10 WIB

Denso Kembangkan Teknologi Cas Mobil Listrik Saat Jalan, Target 2029

5 May 2026 - 10:10 WIB

Robot Legendaris Honda P2 Raih Penghargaan Dunia, Pelopor Gerakan Robot Mirip Manusia

29 April 2026 - 10:10 WIB

Trending on Teknologi