Menu

Dark Mode
Season 2 Saga of Tanya the Evil Siap Tayang Tahun 2026, Rilis Teaser Baru Mulai April 2026, Orang Tua yang Cerai di Jepang Wajib Bayar Nafkah Anak ¥20.000 per Bulan Manga “SHION” Dapat Adaptasi Anime Mulai 1 Desember Pengadilan Tinggi Tokyo Putuskan Larangan Nikah Sesama Jenis Masih Sesuai Konstitusi Jepang Jumlah Petani Jepang Anjlok 25% dalam Lima Tahun, Picu Kekhawatiran Ketahanan Pangan Kadokawa Rilis Manga Baru “Tsukuru Niwa” Karya Mikanuji di Comic Newtype

News

Klinik di Kyoto Sediakan Layanan Medis dalam 31 Bahasa untuk Wisatawan Asing

badge-check

Sebuah klinik medis yang menawarkan layanan dalam 31 bahasa resmi dibuka di Kyoto pada 1 September, menandai langkah baru di tengah membludaknya wisatawan asing di kota bersejarah ini.

Klinik tersebut berada di dalam Hotel Granvia Kyoto, yang langsung terhubung dengan Stasiun JR Kyoto. Selama ini, Kyoto dinilai kekurangan fasilitas medis dengan dokter yang bisa menangani penyakit mendadak, seperti demam, dalam berbagai bahasa—meskipun jumlah turis asing terus meningkat.

Klinik ini digagas oleh Yudai Tomita (41), penduduk Prefektur Hyogo sekaligus ketua korporasi medis Doctor Coming. Inspirasi itu muncul dari pengalamannya saat masih mahasiswa backpacker, ketika ia sakit diare disertai demam di salah satu negara yang bahasanya tidak ia pahami.

Tomita, yang berasal dari Distrik Tsurumi, Osaka, sempat bekerja paruh waktu sebagai bartender sebelum masuk Fakultas Kedokteran Universitas Ryukyus di usia akhir 20-an. Ia kemudian bekerja sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit di Hyogo.

Pada 2023, ia mendirikan layanan Doctor Coming, yaitu kunjungan medis ke rumah bagi anak-anak yang sakit mendadak saat malam atau hari libur. Layanan ini ditanggung asuransi kesehatan. Selain itu, ia juga mulai menerima panggilan dari turis asing yang menginap di hotel mewah Osaka. Meski tarifnya mencapai 100.000 yen (sekitar Rp 10,5 juta) per kunjungan—tidak ditanggung asuransi—layanan tersebut mendapat respons positif karena sudah termasuk obat dan penjelasan kondisi pasien.

Dalam penelitiannya, Tomita menemukan hanya ada sekitar lima klinik di wilayah Tokyo dan sekitarnya yang khusus melayani pasien asing. Melihat peluang tersebut, ia pun mendirikan klinik di Kyoto.

Dr. Coming International Clinic Kyoto Station, yang terletak di lantai 6 Hotel Granvia Kyoto dalam area Clinics Mall, bekerja sama dengan perusahaan penyedia layanan interpretasi medis dalam 31 bahasa. Pasien asing dapat diperiksa dokter dengan bantuan penerjemah online. Obat disediakan oleh apotek di hotel yang sama, lengkap dengan penjelasan penggunaan serta efek samping. Biaya konsultasi berkisar antara 40.000–50.000 yen (Rp 4,2–5,3 juta), dan bisa ditanggung oleh asuransi perjalanan luar negeri.

Asosiasi Pariwisata Kota Kyoto menyambut baik hadirnya klinik ini, karena mereka sering menerima keluhan dari wisatawan asing yang sakit mendadak namun kesulitan berkomunikasi dengan dokter lokal atau bahkan ditolak.

Yuji Umezawa, direktur pusat informasi wisata Kyoto, mengatakan,
“ Kami sangat senang akhirnya ada fasilitas medis yang bisa kami arahkan untuk wisatawan asing. Ini sangat membantu,” ujarnya.

Ke depan, Tomita berharap bisa membuka klinik serupa di Osaka maupun di luar negeri.
“Di banyak negara, hanya orang kaya yang mampu mendapatkan layanan medis. Impian saya adalah mewujudkan redistribusi medis, yaitu membebankan biaya sesuai kemampuan pasien kaya, lalu menggunakan dana itu untuk membantu anak jalanan yang sakit,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Season 2 Saga of Tanya the Evil Siap Tayang Tahun 2026, Rilis Teaser Baru

29 November 2025 - 17:10 WIB

Mulai April 2026, Orang Tua yang Cerai di Jepang Wajib Bayar Nafkah Anak ¥20.000 per Bulan

29 November 2025 - 16:10 WIB

Manga “SHION” Dapat Adaptasi Anime Mulai 1 Desember

29 November 2025 - 14:10 WIB

Pengadilan Tinggi Tokyo Putuskan Larangan Nikah Sesama Jenis Masih Sesuai Konstitusi Jepang

29 November 2025 - 12:10 WIB

Jumlah Petani Jepang Anjlok 25% dalam Lima Tahun, Picu Kekhawatiran Ketahanan Pangan

29 November 2025 - 10:10 WIB

Trending on News