Menu

Dark Mode
Light Novel Arafō Kenja no Isekai Seikatsu Nikki Resmi Dapat Adaptasi Anime Robot AI Tenis Meja Buatan Sony Mampu Saingi Kemampuan Atlet Profesional Jepang Mulai Jual Senjata ke Luar Negeri, Indonesia Bakal Jadi Target Market? Film Live-Action BLUE LOCK Rilis Trailer Baru, Tayang 7 Agustus Kereta Shinkansen Tertunda 3 Menit, Petugas Ketiduran di Ruang Istirahat Jepang Siapkan Aturan Verifikasi Usia Lebih Ketat di Media Sosial untuk Lindungi Anak

News

Kelompok Hacker Rusia Klaim Retas Asahi Group Jepang, Curi 27 GB Data Internal

badge-check


					Kelompok Hacker Rusia Klaim Retas Asahi Group Jepang, Curi 27 GB Data Internal Perbesar

Sebuah kelompok peretas mengaku bertanggung jawab atas serangan siber minggu lalu terhadap raksasa minuman Jepang Asahi Group Holdings Ltd., dan menyatakan telah mencuri data karyawan serta dokumen internal perusahaan, menurut sumber keamanan siber pada Rabu (8/10).

Kelompok ransomware Qilin, yang diyakini berbasis di Rusia, mengunggah pernyataan di dark web, mengklaim telah mencuri sekitar 9.300 file atau sekitar 27 gigabita data, menurut sumber tersebut.

“Kami menemukan informasi di internet yang tampaknya merupakan data milik perusahaan kami dari serangan baru-baru ini,”
kata Asahi Group dalam pernyataan resminya.
“Detail dan cakupan data yang dicuri saat ini masih diselidiki.”

Perusahaan menambahkan,

“Jika hasil penyelidikan menunjukkan adanya kebocoran informasi, kami akan segera memberi tahu pihak-pihak yang terdampak. Serangan ini memengaruhi sistem di Jepang, namun belum ditemukan dampak pada sistem di luar negeri.”

Asahi Group menolak memberikan rincian lebih lanjut mengenai pencurian data, termasuk apakah mereka telah berkomunikasi dengan kelompok peretas tersebut.


🧯 Produksi Pabrik Sempat Terhenti

Asahi sebelumnya melaporkan serangan ransomware pada 29 September, yang menyebabkan gagalnya sistem internal, memaksa perusahaan menghentikan produksi di banyak pabrik dalam negeri dan menunda peluncuran beberapa produk baru.

Ransomware adalah jenis perangkat lunak berbahaya yang mengenkripsi data sehingga tidak dapat diakses hingga korban membayar tebusan.
Kelompok Qilin diketahui telah melancarkan serangan siber ke berbagai negara sejak 2022, menurut sejumlah sumber keamanan siber internasional.


🕵️‍♀️ Tekanan Ganda dari Hacker

Menurut Yukimi Sota dari Proofpoint Jepang, anak perusahaan keamanan siber asal AS, kelompok hacker biasanya menggunakan strategi dua langkah untuk memaksa korban membayar tebusan.

“Kemungkinan besar, para peretas gagal memeras uang dari Asahi melalui negosiasi langsung,
sehingga mereka mencoba memberi tekanan tambahan dengan menyebarkan dokumen-dokumen yang dicuri,”
ujar Sota.

Asahi Group pada Senin lalu menyatakan operasi pabrik bir domestiknya sudah mulai berjalan kembali,
namun hingga Rabu belum diketahui kapan sistem perusahaan akan pulih sepenuhnya, karena pengiriman bir dan produk lainnya masih terganggu.

Sc ; KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Mulai Jual Senjata ke Luar Negeri, Indonesia Bakal Jadi Target Market?

24 April 2026 - 07:17 WIB

Kereta Shinkansen Tertunda 3 Menit, Petugas Ketiduran di Ruang Istirahat

23 April 2026 - 18:10 WIB

Jepang Siapkan Aturan Verifikasi Usia Lebih Ketat di Media Sosial untuk Lindungi Anak

23 April 2026 - 13:10 WIB

Dua Kebakaran Hutan Terjadi Bersamaan di Iwate, Ribuan Warga Diminta Mengungsi

23 April 2026 - 11:10 WIB

Prefektur Ibaraki Siapkan Imbalan bagi Pelapor Pekerja Asing Ilegal Mulai 11 Mei

23 April 2026 - 08:59 WIB

Trending on News