Menu

Dark Mode
Anime “Welcome to Demon School! Iruma-kun” Season 4 Rilis April, Ungkap Opening Baru Pemerintah Jepang Pertimbangkan Penggunaan Nama Lahir di Dokumen Resmi Setelah Menikah Lebih dari 60% Anak Muda di Bawah 30 Tahun di Jepang Tidak Ingin Punya Anak Polisi Jepang Tangkap 7 Orang Termasuk Anggota Yakuza Terkait Perampokan Rp44 Miliar di Tokyo Indonesia dan Jepang Teken Kerja Sama Mineral Kritis dan Energi Nuklir di Tokyo Kekurangan Sopir, Tokyo Hapus Layanan Bus Tengah Malam Mulai Akhir Maret

Culture

Enam Warisan Budaya Takbenda Baru dari Jepang Direkomendasikan Masuk Daftar UNESCO

badge-check


					Enam Warisan Budaya Takbenda Baru dari Jepang Direkomendasikan Masuk Daftar UNESCO Perbesar

Sebuah panel penasihat UNESCO merekomendasikan enam unsur budaya dari Jepang untuk ditambahkan ke dalam tiga kategori yang sudah lebih dulu terdaftar dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, seperti festival tradisional dan pembuatan kertas Jepang (washi), demikian disampaikan Badan Kebudayaan Jepang pada Selasa.

Enam unsur yang diajukan tersebut meliputi festival dari Prefektur Ibaraki, Niigata, Shiga, dan Toyama, serta dua jenis kerajinan tangan tradisional yang berkaitan dengan pembuatan kertas washi dan anyaman tatami. Penetapan resminya akan dibahas dalam sidang Komite Antar-pemerintah UNESCO yang akan diadakan di New Delhi, India, pada 8–13 Desember.

Keenam unsur budaya tersebut masuk sebagai “perluasan” dari kategori yang sudah terdaftar sebelumnya, yaitu:

  • Washi, craftsmanship of traditional Japanese handmade paper (ditetapkan pada 2014),

  • Yama, Hoko, Yatai, float festivals in Japan (2016), dan

  • Traditional skills, techniques and knowledge for the conservation and transmission of wooden architecture in Japan (2020).

Menurut Badan Kebudayaan Jepang, festival Otsu Hikiyama di Shiga, Ofune Festival of Hitachi Otsu di Ibaraki, Murakami Yatai Festival di Niigata, serta Hojozu Hachimangu Shrine Hikiyama Tsukiyama Festival di Toyama memainkan peran penting dalam memperkuat ikatan masyarakat lokal.

Sementara itu, dua unsur lainnya yang direkomendasikan adalah:

  • teknik pembuatan kertas handmade Echizen “torinoko-shi” dari Prefektur Fukui, dan

  • teknik anyaman “nakatsugi-omote”, permukaan tatami tradisional yang dikenal indah dan tahan lama.

Keduanya dinilai telah memenuhi standar perlindungan dan pelestarian budaya sebagaimana disyaratkan UNESCO.

Pemerintah Jepang mengajukan nominasi keenam unsur ini pada Maret 2024.
Tahun yang sama, pengetahuan dan keterampilan tradisional dalam pembuatan sake dan shochu resmi menjadi warisan budaya takbenda ke-23 Jepang yang tercatat di UNESCO.

Namun karena enam unsur terbaru ini dianggap sebagai perluasan dari kategori yang sudah ada, jumlah total entri Jepang di daftar UNESCO tetap 23.

Selain itu, Jepang juga telah mengajukan “shodō” (kaligrafi Jepang) untuk dinilai sebagai warisan budaya takbenda baru, dengan keputusan dari UNESCO dijadwalkan pada tahun 2026.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Jarang Menolak Secara Langsung

18 February 2026 - 09:00 WIB

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture