Pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengenai kemungkinan darurat militer di Taiwan membuat China kecewa dan kini menimbulkan kekhawatiran bahwa kedatangan panda baru ke Jepang dapat terhambat. Hal ini terjadi menjelang batas waktu pemulangan dua anak panda yang saat ini menghuni kebun binatang di Tokyo pada bulan Februari mendatang.
Kerumunan besar pengunjung terus memadati Kebun Binatang Ueno pada Sabtu untuk memberikan salam perpisahan kepada panda kembar Xiao Xiao dan Lei Lei. Mereka merupakan satu-satunya panda yang tersisa di Jepang dan menarik perhatian publik yang besar.
Kedua panda yang lahir pada 2021 itu dijadwalkan kembali ke Tiongkok sesuai perjanjian peminjaman antara kedua negara. Seorang penggemar bahkan menyampaikan kekhawatirannya atas meningkatnya ketegangan politik, “Bisa saja nanti tidak ada lagi panda di Jepang.”
Di tengah ramai pengunjung pada libur akhir pekan tiga hari, seorang karyawan berusia 42 tahun dari Prefektur Kyoto mengatakan bahwa panda adalah “hewan istimewa yang bisa menenangkan hati hanya dengan melihatnya,” dan berharap mereka bisa tetap berada di Ueno.
Putrinya yang berusia lima tahun berkata, “Aku akan sedih kalau panda lucu itu pergi,” sambil memegang boneka panda kesayangannya.
Pada Juni lalu, empat panda raksasa yang dipinjamkan ke kebun binatang di Prefektur Wakayama telah dipulangkan ke Tiongkok, sehingga kini hanya tersisa dua panda di Ueno. Wakayama dan Kyoto sama-sama berada di wilayah Kansai, yang berjarak ratusan kilometer dari Tokyo.
Awal bulan ini, Takaichi menyebut situasi darurat di Taiwan yang melibatkan penggunaan kekuatan militer oleh China dapat dianggap sebagai “situasi yang mengancam keselamatan” Jepang, sehingga memungkinkan negara itu menjalankan hak bela diri kolektif.
Sebuah surat kabar Tiongkok melaporkan melalui media sosial bahwa jika kondisi terus memburuk, Beijing mungkin akan menangguhkan peminjaman panda baru ke Jepang. Seorang ahli bahkan memperingatkan Jepang bisa kehilangan akses terhadap hewan tersebut.
Yukinori Yokomi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Persahabatan Jepang–China, menyatakan kekhawatirannya bahwa program pertukaran ini pada akhirnya bisa hilang.
“Panda adalah duta perdamaian antara Jepang dan China. Saya khawatir upaya untuk mendatangkan mereka bisa terhambat karena masalah terbaru ini,” ujarnya, sembari berharap situasi dapat segera membaik.
Sc : JT







