Menu

Dark Mode
Rencana Hadiah Laporan Pekerja Asing Ilegal di Ibaraki Picu Kekhawatiran Diskriminasi Game Baru Sword Art Online: Echoes of Aincrad Umumkan Jadwal Rilis dan Detail Edisi Manga Kemono Jihen Akan Diadaptasi Jadi Pertunjukan Teater, Angkat Arc Tokyo Kasus Ganja di Jepang Capai Rekor Tertinggi 2025, Mayoritas Pelaku Anak Muda Ekspansi Bandara Narita Terancam Molor, Pemerintah Pertimbangkan Pengadaan Lahan Secara Paksa Harga Tiket Pesawat ANA, JAL Rute Internasional dari Jepang Diperkirakan Naik hingga 100% Akibat Lonjakan Harga BBM

News

Gempa 7,5 Magnitudo Jadi Peringatan: Turis Asing di Jepang Tak Tahu Prosedur Evakuasi

badge-check


					Gempa 7,5 Magnitudo Jadi Peringatan: Turis Asing di Jepang Tak Tahu Prosedur Evakuasi Perbesar

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,5 yang baru-baru ini mengguncang wilayah lepas pantai timur laut Jepang kembali menyoroti pentingnya penyampaian informasi keselamatan dan evakuasi yang lebih efektif bagi warga negara asing, terutama di tengah lonjakan jumlah wisatawan mancanegara ke Jepang.

Saat Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah pesisir Pasifik Hokkaido serta Prefektur Aomori dan Iwate, baik warga lokal maupun wisatawan asing diminta segera melakukan evakuasi. Namun, bagi sebagian turis asing, instruksi tersebut tidak selalu mudah dipahami atau diikuti.

Jose San Juan, seorang wisatawan asal Filipina yang menginap di sebuah hotel di Sapporo, mengaku menerima peringatan gempa melalui ponselnya. Meski begitu, ia tidak dapat segera mengevakuasi diri karena tidak mengetahui ke mana harus pergi.
“Informasi seperti lokasi evakuasi tidak disampaikan kepada orang asing dengan cukup cepat dan jelas,” ujar Mayumi Sakamoto, profesor di Graduate School of Disaster Resilience and Governance, Universitas Hyogo.

Di JR Inn Hakodate, Hokkaido, banyak tamu hotel yang berasal dari luar negeri saat gempa dengan intensitas 5 pada skala intensitas seismik Jepang terjadi. Pihak hotel telah menginstruksikan tamu dalam bahasa Jepang dan Inggris untuk menuju lantai atas guna menghindari tsunami. Namun, akibat kebingungan, sebagian tamu justru turun ke lobi di lantai dasar.

Di penginapan lain di Hakodate, informasi terkait evakuasi hanya dituliskan di papan tulis dalam bahasa Jepang. Seorang tamu perempuan asal Korea Selatan mengatakan ia terpaksa memotret informasi tersebut dan menerjemahkannya menggunakan aplikasi penerjemah di ponselnya.

Sakamoto menekankan bahwa Jepang perlu segera membangun sistem yang memungkinkan penyampaian informasi darurat secara lancar kepada warga asing, termasuk dengan memperkenalkan aplikasi dan situs web multibahasa kepada wisatawan sejak kedatangan mereka di Jepang.

Masalah ini menjadi semakin mendesak mengingat lonjakan jumlah wisatawan. Jepang mencatat rekor 36,87 juta kunjungan wisatawan asing tahun lalu, dan angka tersebut telah mencapai 35,54 juta kunjungan hingga Oktober tahun ini, menurut data dari Japan National Tourism Organization.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Rencana Hadiah Laporan Pekerja Asing Ilegal di Ibaraki Picu Kekhawatiran Diskriminasi

6 April 2026 - 10:10 WIB

Kasus Ganja di Jepang Capai Rekor Tertinggi 2025, Mayoritas Pelaku Anak Muda

3 April 2026 - 12:10 WIB

Ekspansi Bandara Narita Terancam Molor, Pemerintah Pertimbangkan Pengadaan Lahan Secara Paksa

3 April 2026 - 10:10 WIB

Harga Tiket Pesawat ANA, JAL Rute Internasional dari Jepang Diperkirakan Naik hingga 100% Akibat Lonjakan Harga BBM

3 April 2026 - 07:10 WIB

Jepang Uji Daur Ulang Popok Bekas Jadi Produk Baru, Solusi untuk Limbah dan Populasi Menua

2 April 2026 - 18:10 WIB

Trending on News