Menu

Dark Mode
Perusahaan Bus Hiroshima Rekrut Dua Warga Indonesia untuk Atasi Kekurangan Sopir Anime Tempal: Item no Chikara Ungkap Trailer Ketiga dan Dua Pengisi Suara Baru Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 31 Tahun Pemprov Tokyo Pertimbangkan Larangan Buang Sampah Sembarangan Board Game Naruto Shippuden Battle Resmi Dibuka untuk Crowdfunding Topan Dujuan Berpotensi Dekati Tokyo pada Senin, Ganggu Perjalanan Liburan

News

Gempa 7,5 Magnitudo Jadi Peringatan: Turis Asing di Jepang Tak Tahu Prosedur Evakuasi

badge-check


					Gempa 7,5 Magnitudo Jadi Peringatan: Turis Asing di Jepang Tak Tahu Prosedur Evakuasi Perbesar

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,5 yang baru-baru ini mengguncang wilayah lepas pantai timur laut Jepang kembali menyoroti pentingnya penyampaian informasi keselamatan dan evakuasi yang lebih efektif bagi warga negara asing, terutama di tengah lonjakan jumlah wisatawan mancanegara ke Jepang.

Saat Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah pesisir Pasifik Hokkaido serta Prefektur Aomori dan Iwate, baik warga lokal maupun wisatawan asing diminta segera melakukan evakuasi. Namun, bagi sebagian turis asing, instruksi tersebut tidak selalu mudah dipahami atau diikuti.

Jose San Juan, seorang wisatawan asal Filipina yang menginap di sebuah hotel di Sapporo, mengaku menerima peringatan gempa melalui ponselnya. Meski begitu, ia tidak dapat segera mengevakuasi diri karena tidak mengetahui ke mana harus pergi.
“Informasi seperti lokasi evakuasi tidak disampaikan kepada orang asing dengan cukup cepat dan jelas,” ujar Mayumi Sakamoto, profesor di Graduate School of Disaster Resilience and Governance, Universitas Hyogo.

Di JR Inn Hakodate, Hokkaido, banyak tamu hotel yang berasal dari luar negeri saat gempa dengan intensitas 5 pada skala intensitas seismik Jepang terjadi. Pihak hotel telah menginstruksikan tamu dalam bahasa Jepang dan Inggris untuk menuju lantai atas guna menghindari tsunami. Namun, akibat kebingungan, sebagian tamu justru turun ke lobi di lantai dasar.

Di penginapan lain di Hakodate, informasi terkait evakuasi hanya dituliskan di papan tulis dalam bahasa Jepang. Seorang tamu perempuan asal Korea Selatan mengatakan ia terpaksa memotret informasi tersebut dan menerjemahkannya menggunakan aplikasi penerjemah di ponselnya.

Sakamoto menekankan bahwa Jepang perlu segera membangun sistem yang memungkinkan penyampaian informasi darurat secara lancar kepada warga asing, termasuk dengan memperkenalkan aplikasi dan situs web multibahasa kepada wisatawan sejak kedatangan mereka di Jepang.

Masalah ini menjadi semakin mendesak mengingat lonjakan jumlah wisatawan. Jepang mencatat rekor 36,87 juta kunjungan wisatawan asing tahun lalu, dan angka tersebut telah mencapai 35,54 juta kunjungan hingga Oktober tahun ini, menurut data dari Japan National Tourism Organization.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Perusahaan Bus Hiroshima Rekrut Dua Warga Indonesia untuk Atasi Kekurangan Sopir

21 September 2026 - 10:10 WIB

Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 31 Tahun

19 September 2026 - 12:10 WIB

Pemprov Tokyo Pertimbangkan Larangan Buang Sampah Sembarangan

19 September 2026 - 10:10 WIB

Topan Dujuan Berpotensi Dekati Tokyo pada Senin, Ganggu Perjalanan Liburan

18 September 2026 - 10:10 WIB

Jepang Mulai Diskusikan Buka Pekerjaan Satpam untuk Warga Asing

18 September 2026 - 06:31 WIB

Trending on News