Jepang, yang dikenal sebagai salah satu pemain paling kompetitif di industri antariksa global, dinilai masih perlu memperkuat layanan transportasi kargo komersial serta mempersempit cakupan sektor yang menerima bantuan keuangan pemerintah agar mampu mengejar para pesaing utama dunia, menurut para analis.
Jepang merupakan salah satu dari lima negara pertama yang berhasil mendaratkan wahana di Bulan dan menempati peringkat ketiga dunia dalam investasi publik sektor antariksa. Jumlah perusahaan yang menawarkan layanan terkait antariksa juga terus bertambah, mulai dari komunikasi satelit, perawatan orbit, hingga wisata luar angkasa.
Namun demikian, penyedia layanan antariksa Jepang masih sangat bergantung pada perusahaan Amerika Serikat seperti SpaceX dan Rocket Lab untuk layanan peluncuran. Padahal, transportasi roket dianggap sebagai fondasi utama bagi seluruh industri antariksa.
Saat ini, layanan kargo komersial Jepang masih berada dalam tahap pengembangan atau uji coba. Para analis menilai bahwa peluncuran roket dari dalam negeri akan sangat penting untuk menekan biaya dan mempercepat waktu pengiriman.
Selain roket H3 milik Badan Antariksa Jepang (JAXA), sejumlah perusahaan swasta seperti Interstellar Technologies dan Space One menjadi pelopor pengembangan roket komersial. Honda Motor Co. juga ikut terjun ke sektor ini melalui divisi risetnya.
Pada Juni lalu, unit riset Honda berhasil meluncurkan dan mendaratkan roket eksperimental yang dapat digunakan kembali, yang mencapai ketinggian hampir 300 meter dalam uji terbang di Hokkaido. Meski belum memutuskan untuk terjun penuh ke bisnis roket, Honda menargetkan peluncuran suborbital pada 2029.
“Kami sedang meneliti apakah ada kontribusi yang bisa kami berikan bagi kehidupan masyarakat, terutama ketika pasokan kendaraan transportasi antariksa sedang terbatas,” ujar Kazuo Sakurahara, General Manager Space Strategy Office Honda R&D.
Konsultan bisnis antariksa Hidetaka Aoki menilai bahwa jika Jepang memiliki roket komersial yang siap digunakan, industri antariksa nasional akan berkembang pesat. “Ini hanya soal waktu, dan bisa terwujud dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.
Pemerintah Jepang mendukung industri ini melalui Space Strategy Fund dan berencana menggelontorkan 1 triliun yen hingga Maret 2035. Namun, jumlah tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara pemimpin industri antariksa.
“Skala pendanaan Jepang sangat tertinggal dibanding Amerika Serikat. Kesenjangannya besar,” kata Yosuke Enomoto, Senior Manager PwC Consulting. Ia juga menilai ekosistem startup antariksa Jepang masih belum matang, sehingga kemampuan penggalangan dana pun terbatas.
Pada 2024, Jepang menginvestasikan 6,8 miliar dolar AS di sektor antariksa, tertinggi ketiga di dunia. Namun angka ini jauh di bawah Amerika Serikat dengan 79,7 miliar dolar AS dan China dengan 19,9 miliar dolar AS, menurut data konsultan antariksa Novaspace.
Pakar menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada sektor-sektor tertentu agar dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif. Saat ini, dukungan pemerintah cenderung tersebar luas sehingga dampaknya kurang maksimal.
Meski JAXA dan perusahaan besar seperti Mitsubishi Heavy Industries dan NEC masih mendominasi, sejumlah startup mulai bermunculan. Beberapa di antaranya bahkan telah melantai di bursa, seperti Axelspace, iSpace, Astroscale, iQPS, dan Synspective.
Namun, pasar pendanaan startup di Jepang dinilai masih kecil dibandingkan Amerika Serikat. Untuk pertumbuhan jangka panjang, investasi asing dianggap krusial karena dukungan pemerintah lebih banyak memicu permintaan dari sektor pertahanan dan riset.
“Dana strategi antariksa pada dasarnya hanya mendukung tahap riset dan pengembangan. Transisi dari R&D ke bisnis adalah titik lemah industri Jepang,” ujar Atsushi Uchida dari Mitsubishi Research Institute.
Sc : KN








