Belajar bahasa Jepang tidak hanya soal menerjemahkan kata per kata. Banyak kata Jepang yang terlihat familiar atau sering muncul di anime, drama, dan media sosial, tapi justru sering disalahartikan oleh orang Indonesia karena perbedaan konteks budaya dan kebiasaan berbahasa.
Kesalahan ini biasanya bukan karena “salah total”, melainkan karena maknanya lebih sempit, lebih halus, atau lebih sensitif dari yang dibayangkan. Berikut beberapa contoh bahasa Jepang yang paling sering disalahpahami, beserta penjelasan yang benar.
「大丈夫」
Romaji: Daijoubu
Sering disalahartikan sebagai: “tidak apa-apa / aman / oke”
Makna sebenarnya jauh lebih luas. Daijoubu bisa berarti:
-
tidak masalah
-
aman
-
sudah cukup
-
bisa menolak dengan halus
Dalam konteks tertentu, daijoubu desu justru berarti “tidak perlu” atau “tidak mau”, bukan “iya”. Karena itu, memahami situasi dan intonasi sangat penting.
「すみません」
Romaji: Sumimasen
Sering dianggap hanya berarti: “maaf”
Padahal, sumimasen juga dipakai untuk:
-
memanggil orang
-
membuka percakapan
-
mengucapkan terima kasih secara halus
Dalam banyak situasi, sumimasen tidak menunjukkan rasa bersalah besar, melainkan bentuk kesopanan.
「お願いします」
Romaji: Onegaishimasu
Sering disalahartikan sebagai: “tolong” saja
Padahal, ungkapan ini sangat fleksibel. Bisa berarti:
-
tolong
-
mohon kerja samanya
-
saya serahkan pada Anda
Maknanya bergantung pada situasi, bukan hanya kata itu sendiri.
「大変」
Romaji: Taihen
Sering diterjemahkan sebagai: “parah” atau “sulit”
Padahal, taihen juga bisa dipakai untuk:
-
menunjukkan empati
-
menyatakan sesuatu itu berat
-
merespons cerita orang lain
Tidak selalu bermakna negatif atau keluhan.
「ちょっと…」
Romaji: Chotto…
Banyak pelajar Jepang mengira ini hanya berarti “sedikit”.
Dalam percakapan, chotto… sering dipakai sebagai:
-
penolakan halus
-
tanda keberatan
-
sinyal ketidaknyamanan
Sering kali kalimatnya tidak dilanjutkan karena maknanya sudah dipahami.
「よろしくお願いします」
Romaji: Yoroshiku onegaishimasu
Bukan sekadar “tolong” atau “terima kasih”.
Ungkapan ini mencakup:
-
permohonan kerja sama
-
salam pembuka
-
penutup percakapan
Maknanya tidak bisa diterjemahkan satu kata ke bahasa Indonesia.
Kenapa Kesalahpahaman Ini Sering Terjadi?
Bahasa Jepang sangat bergantung pada:
-
konteks
-
hubungan sosial
-
intonasi
-
situasi
Sementara bahasa Indonesia cenderung lebih langsung. Akibatnya, menerjemahkan kata Jepang secara literal sering kali tidak cukup untuk memahami maksud sebenarnya.
Pada akhirnya, memahami bahasa Jepang bukan hanya soal kosakata, tapi juga cara berpikir dan kebiasaan komunikasi orang Jepang. Dengan memahami nuansa di balik kata-kata ini, kamu bisa menghindari salah paham dan berkomunikasi dengan lebih natural serta aman dalam berbagai situasi.









