Impor beras oleh sektor swasta di Jepang mencapai rekor tertinggi sebesar 96.779 ton pada tahun 2025, atau melonjak sekitar 96 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, seiring harga beras produksi dalam negeri yang terus berada di level tinggi. Data pemerintah menunjukkan hal tersebut pada Kamis.
Lonjakan tajam dari hanya 1.008 ton pada 2024 ini terjadi meskipun pemerintah Jepang mengenakan tarif sebesar 341 yen per kilogram untuk beras impor swasta. Bahkan dengan tarif tersebut, harga beras impor masih dinilai lebih murah dibandingkan beras domestik.
Berdasarkan statistik perdagangan Kementerian Keuangan Jepang, volume impor beras mulai meningkat sejak Januari tahun lalu dan mencapai puncaknya pada Juli dengan 26.349 ton, sebelum kemudian menurun sejak Agustus. Secara tahunan, angka ini merupakan yang terbesar sejak data sejenis mulai dicatat pada tahun 2000.
Amerika Serikat menjadi negara pemasok terbesar, dengan total 75.638 ton, disusul Taiwan sebanyak 7.024 ton dan Vietnam 4.515 ton.
Saat ini, Jepang mengimpor sekitar 770.000 ton beras per tahun tanpa tarif berdasarkan komitmen minimum access sesuai aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dari jumlah tersebut, hingga 100.000 ton dialokasikan untuk sektor swasta sebagai bahan pangan pokok.
Impor beras swasta yang melonjak pada 2025 ini dilakukan di luar kuota bebas tarif tersebut, menunjukkan tekanan kuat dari mahalnya harga beras domestik di Jepang.
Sc : mainichi








