Rencana pembangunan masjid (tempat ibadah umat Islam) di kawasan Miyahara, Kota Fujisawa, Prefektur Kanagawa Prefecture, memicu konflik yang semakin memanas di antara warga. Dalam pidato jalanan maupun pertemuan warga, adu argumen hingga gesekan kecil antara pihak yang menolak dan yang mendukung kini menjadi hal yang sering terjadi.
Pada 6 Februari, di masa akhir kampanye pemilu parlemen, seorang jurnalis mengunjungi area depan Stasiun JR Tsujidō di Fujisawa. Di sana, seorang YouTuber pria berusia 54 tahun yang maju sebagai kandidat independen dari distrik Kanagawa ke-12 menyampaikan orasi, dengan mengatakan, “Kalau masjid sudah berdiri, semuanya akan terlambat.”
Ketika seorang wanita yang membawa plakat bertuliskan “No Hate” menyuarakan protes, sebagian massa justru melontarkan kata-kata kasar kepadanya. Polisi berpakaian sipil kemudian turun tangan untuk melerai situasi. Di antara kelompok penolak, terlihat pula sejumlah remaja yang diduga masih berstatus pelajar SMP dan SMA.
Gerakan penolakan terhadap pembangunan ini mulai menguat sejak musim gugur tahun lalu. Setelah organisasi umum Fujisawa Masjid membeli lahan pada 2022, YouTuber tersebut membentuk kelompok dan aktif menyebarkan pesan melalui media sosial serta kegiatan lokal. Dalam masa kampanye pemilu, ia juga membagikan selebaran yang menyebut adanya kasus kriminal seperti kekerasan seksual, meski kebenaran informasi tersebut tidak dapat dipastikan.
Di sisi lain, pihak Fujisawa Masjid sejak Desember tahun lalu telah mengadakan sesi penjelasan kepada warga, menegaskan bahwa mereka bukan organisasi ekstrem. Asosiasi warga setempat juga menggelar pertemuan pada 21 Februari. Namun, dalam forum tersebut, sejumlah penolak mengajukan pertanyaan bernada menekan kepada umat Islam. Di luar lokasi, sekelompok orang yang menentang diskriminasi juga terlihat meneriakkan, “Rasis, pulang saja!”
Beberapa warga yang menyaksikan situasi ini mengaku merasa tidak nyaman dan mengatakan bahwa suasana yang tercipta “meninggalkan kesan yang tidak enak.”
Sebelumnya, sebelum isu ini memanas, pihak asosiasi warga telah melakukan kunjungan ke sebuah masjid di Kota Ebina dan memastikan tidak ada masalah besar dengan warga sekitar di sana. Pada 29 Maret, asosiasi warga juga menolak petisi dari pihak penolak yang meminta penghentian pembangunan, dengan alasan tidak didasarkan pada fakta yang jelas.
Namun demikian, menurut beberapa warga, jumlah anggota asosiasi kini menurun, sehingga kemampuan untuk mencapai kesepakatan bersama juga melemah dibanding sebelumnya. Hingga saat ini, konflik terkait pembangunan masjid tersebut masih belum menemukan titik temu.
Sc : newsyahoo








