Layanan ferry baru yang menghubungkan Taiwan dan Jepang resmi mulai beroperasi pada hari Kamis untuk melayani meningkatnya jumlah wisatawan antara kedua wilayah tersebut.
Kapal bernama Yaima Maru kini melayani rute mingguan antara Kota Keelung di Taiwan utara dan Ishigaki di Jepang, yang berada di bagian selatan Kepulauan Ryukyu dekat Taiwan. Perjalanan dilakukan semalam dengan jadwal satu kali pulang-pergi setiap minggu.
Menariknya, kapal tersebut juga termasuk dalam daftar kapal yang tahun ini ditetapkan pemerintah Jepang sebagai armada evakuasi darurat jika terjadi krisis keamanan di pulau-pulau selatan Jepang.
Wali Kota Ishigaki, Yoshitaka Nakayama, mengatakan bahwa jalur ferry reguler ini bukan sekadar sarana transportasi, tetapi juga diharapkan menjadi jembatan baru untuk mendukung pariwisata, logistik, ekonomi, pertukaran budaya, dan pendidikan antara Jepang dan Taiwan.
Di sisi lain, pembukaan jalur ini juga mendapat perhatian karena situasi keamanan kawasan yang semakin sensitif.
China, yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan tekanan militer terhadap Taipei, termasuk melalui latihan militer di wilayah yang dekat dengan perairan Jepang.
Amerika Serikat sendiri memiliki pangkalan militer besar di Okinawa, sementara Jepang juga terus memperkuat pertahanan di wilayah Kepulauan Ryukyu, termasuk di Pulau Yonaguni yang merupakan pulau Jepang terdekat dengan Taiwan.
Presiden perusahaan operator ferry Shosen Yaima, Tatsuya Ohama, menolak memberikan komentar langsung terkait ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Ia mengatakan bahwa sebagai operator ferry swasta, fokus utama perusahaan saat ini adalah memastikan layanan baru tersebut berjalan dengan baik.
Jepang pernah menjadikan Taiwan sebagai koloni dari tahun 1895 hingga 1945. Hingga kini, keduanya masih memiliki hubungan ekonomi dan perdagangan yang sangat dekat meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.
Dalam beberapa waktu terakhir, China juga menunjukkan ketidakpuasan terhadap dukungan Jepang yang semakin terbuka kepada Taiwan.
Pada November lalu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan bahwa jika terjadi serangan China terhadap Taiwan, situasi tersebut dapat memicu respons militer dari Jepang. Pernyataan itu memicu kemarahan Beijing dan memperburuk hubungan kedua negara.
Sementara itu, pemerintah Taiwan terus menolak klaim kedaulatan China atas wilayahnya.
Sc : JT








