Sebagian besar universitas di Jepang akan mulai mewajibkan wawancara dalam proses penerimaan mahasiswa baru mulai siklus masuk tahun akademik 2027.
Kebijakan ini dibuat untuk menanggapi kritik bahwa sistem seleksi saat ini terlalu bergantung pada tes akademik semata.
Wawancara nantinya diwajibkan dalam jalur penerimaan “holistic admissions” dan jalur rekomendasi sekolah, yang sebagian besar dilaksanakan pada musim gugur.
Sistem “holistic admissions” di Jepang menilai calon mahasiswa berdasarkan berbagai faktor seperti nilai sekolah, aktivitas ekstrakurikuler, dan esai, bukan hanya nilai ujian akademik.
Sementara itu, jalur rekomendasi sekolah merupakan sistem di mana sekolah menominasikan siswa ke universitas, lalu universitas menilai siswa berdasarkan nilai akademik, wawancara, esai, dan dokumen lainnya.
Universitas yang pada tahun akademik 2026 belum menerapkan wawancara dalam kedua jalur tersebut akan diberikan masa transisi selama dua tahun sebelum aturan wajib diberlakukan penuh.
Pedoman ujian masuk universitas di Jepang ditetapkan oleh dewan yang dibentuk Kementerian Pendidikan Jepang bersama organisasi sekolah menengah dan universitas.
Dalam revisi terbaru untuk penerimaan tahun akademik 2027, universitas kini diperbolehkan mengadakan tes akademik dalam jalur holistic maupun rekomendasi sekolah asalkan dikombinasikan dengan wawancara, esai, atau metode penilaian lainnya.
Sebelumnya, banyak kritik muncul karena sejumlah universitas dianggap terlalu menitikberatkan tes akademik dalam jalur tersebut sehingga dinilai mirip seperti “ujian reguler versi lebih awal”.
Pada 27 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Jepang resmi mengirimkan pedoman baru tersebut kepada universitas-universitas di seluruh negeri.
Dalam penerimaan mahasiswa tahun akademik 2025, beberapa universitas swasta di wilayah Tokyo seperti Toyo University diketahui menjalankan jalur rekomendasi sekolah yang pada praktiknya hampir sepenuhnya ditentukan oleh hasil tes akademik.
Kementerian Pendidikan Jepang kemudian menilai praktik tersebut melanggar aturan dan memberikan peringatan.
Mulai penerimaan tahun akademik 2026, universitas memang diperbolehkan mengadakan tes akademik lebih awal jika digabungkan dengan wawancara atau esai. Namun sejumlah kampus dinilai masih terlalu mengandalkan hasil tes.
Karena itu, mulai siklus penerimaan 2027, wawancara diwajibkan untuk memperkuat prinsip bahwa jalur holistic dan rekomendasi sekolah harus menggunakan metode penilaian yang berbeda dari jalur reguler berbasis nilai ujian.
Meski begitu, untuk jalur internal dari sekolah afiliasi atau rekomendasi khusus yang mengharuskan siswa hanya mendaftar ke satu universitas, kampus masih boleh memutuskan sendiri apakah akan mengadakan wawancara atau tidak.
Wawancara juga diperbolehkan dilakukan secara online.
Data Kementerian Pendidikan Jepang menunjukkan bahwa pada penerimaan tahun akademik 2025, wawancara atau diskusi sudah diterapkan pada 92,6 persen jalur holistic admissions dan 77,4 persen jalur rekomendasi sekolah.
Secara keseluruhan, sekitar 53,6 persen mahasiswa baru di Jepang diterima melalui salah satu dari dua jalur tersebut.
Namun aturan baru ini juga menimbulkan tantangan bagi universitas yang menerima jumlah pendaftar sangat besar.
Toyo University misalnya menerima sekitar 19.000 pendaftar untuk jalur holistic dan rekomendasi sekolah pada penerimaan tahun akademik 2026.
Universitas tersebut kini berencana meningkatkan bobot penilaian dokumen sekolah dan esai untuk penerimaan 2027. Meski mendapat masa transisi dua tahun sebelum wajib wawancara, pihak kampus mengakui akan sulit melakukan wawancara tatap muka untuk jumlah peserta sebesar itu.
Karena lokasi ujian tersebar di seluruh Jepang, pihak universitas mempertimbangkan opsi wawancara kelompok secara online.
Ryukoku University di Kyoto juga menghadapi tantangan serupa setelah menerima sekitar 40.000 pendaftar untuk jalur holistic admissions tahun akademik 2026.
Pihak universitas mengatakan wawancara bisa menjadi beban tambahan bagi calon mahasiswa sehingga mereka masih mencari cara untuk mengurangi beban tersebut.
Peneliti pendidikan dari Kawaijuku Educational Institution, Osamu Kondo, mengatakan bahwa selama ini jalur penerimaan sebelum Desember yang menggunakan tes akademik sering dianggap hanya sebagai “versi awal ujian masuk reguler”.
Menurutnya, dengan diwajibkannya wawancara, siswa kini harus memiliki motivasi yang lebih jelas saat mendaftar, sementara guru SMA juga perlu memberikan bimbingan yang lebih personal kepada setiap siswa.
Sc : asahi








