Proyek kereta Maglev Shinkansen yang telah menjadi impian Jepang selama lebih dari 50 tahun akhirnya kembali mengalami kemajuan.
Pada Juli lalu, proyek ini berhasil melewati salah satu hambatan terbesar setelah Prefektur Shizuoka memberikan lampu hijau untuk memulai pembangunan terowongan yang sebelumnya tertunda karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan.
Meski begitu, jalur pertama dari Tokyo (Shinagawa) menuju Nagoya yang semula ditargetkan beroperasi pada 2027, kini diperkirakan baru akan dibuka paling cepat pada 2036. Sementara itu, jadwal penyelesaian jalur hingga Osaka masih belum ditentukan.
Kereta Maglev dirancang melaju hingga 505 km/jam, sehingga nantinya perjalanan Tokyo–Nagoya hanya memakan waktu sekitar 40 menit, sedangkan Tokyo–Osaka dapat ditempuh sekitar 67 menit, jauh lebih cepat dibandingkan Shinkansen saat ini.
Pemerintah Jepang menganggap jalur ini penting sebagai jalur transportasi alternatif apabila Jalur Tokaido Shinkansen terdampak gempa besar di Palung Nankai. Selain itu, proyek ini juga diharapkan memperkuat perekonomian dengan menghubungkan kawasan metropolitan Tokyo, Nagoya, dan Osaka menjadi satu wilayah ekonomi yang lebih terintegrasi.
Namun, pembangunan proyek ini tidak mudah. Sekitar 86% jalur Tokyo–Nagoya berada di dalam terowongan, sehingga proses konstruksinya sangat rumit dan memakan waktu.
Di sisi lain, rute lanjutan dari Nagoya menuju Osaka juga masih belum diputuskan. Pemerintah masih melakukan kajian lingkungan dan menentukan jalur terbaik yang kemungkinan akan melewati Prefektur Mie dan Nara.
Operator proyek, JR Central, menyatakan saat ini fokus utama mereka adalah menyelesaikan pembangunan jalur Shinagawa–Nagoya, dan belum bisa memastikan kapan seluruh jalur hingga Osaka akan selesai.
Sc : KN








