Pemerintah Jepang dikabarkan akan merilis pernyataan bersama dengan Amerika Serikat pada Senin terkait dugaan aksi terkoordinasi untuk menghentikan pelemahan nilai tukar yen yang sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam hampir 40 tahun.
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Jepang bersama Bank of Japan (BOJ) diduga beberapa kali melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Langkah tersebut dilakukan setelah nilai tukar yen sempat melemah hingga mendekati 164 yen per dolar AS, level terendah sejak sekitar 39 tahun 8 bulan terakhir.
Setelah aksi pembelian yen yang berlangsung sejak Kamis malam hingga Sabtu pagi waktu Jepang, nilai yen langsung menguat tajam hingga berada di kisaran 157 yen per dolar AS, atau menguat lebih dari 5 yen dibanding sebelum intervensi dilakukan.
Menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, otoritas moneter Amerika Serikat juga ikut mengambil langkah yang tidak biasa dengan membantu operasi Jepang.
Disebutkan bahwa Federal Reserve Bank of New York, atas nama Departemen Keuangan AS, menjual euro untuk membeli yen sehingga memperkuat efek intervensi Jepang di pasar.
Jika benar, ini akan menjadi:
- Intervensi bersama Jepang-AS pertama sejak 2011, saat yen menguat tajam setelah Gempa Besar Jepang Timur.
- Aksi pembelian yen bersama pertama sejak 1998, ketika Jepang menghadapi krisis keuangan.
Meski demikian, pemerintah Jepang masih belum mengonfirmasi secara resmi apakah intervensi bersama benar-benar dilakukan.
Namun, Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional, Atsushi Mimura, pada Jumat mengatakan bahwa Jepang menerima dukungan dari otoritas Amerika Serikat yang “lebih dari sekadar dukungan moral.”
Pernyataan tersebut dinilai banyak pihak sebagai sinyal bahwa Washington memang ikut membantu Jepang menahan pelemahan yen di pasar valuta asing.
sc : NHK








