Festival Yosakoi resmi dimulai pada Senin di Kota Kochi, Jepang bagian barat, dengan sekitar 18.000 penari dari 197 tim yang berasal dari dalam maupun luar Prefektur Kochi.
Selama tiga hari hingga Rabu, para penari tampil dengan kostum warna-warni dan bergerak secara serempak sambil membunyikan alat musik kayu kecil bernama naruko, yang menghasilkan suara khas seperti bunyi “klak-klak”.
“Saya tidak akan membiarkan panas mengalahkan saya dan akan terus menari sambil tersenyum sampai akhir,” kata salah seorang penari, Sato Ogasawara.
Festival ini pertama kali digelar pada 1954 sebagai bentuk doa untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Kochi. Sejak saat itu, Yosakoi berkembang menjadi salah satu festival tari terbesar dan paling dikenal di Jepang.
Namun, suhu panas menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penari mengalami heatstroke karena membatasi konsumsi air agar tidak perlu terlalu sering menggunakan toilet yang biasanya penuh selama festival.
Tahun ini, penyelenggara mengambil langkah khusus untuk mengurangi risiko tersebut. Penari dan pengunjung diperbolehkan menggunakan toilet di berbagai fasilitas umum di sekitar lokasi festival. Toilet portabel yang biasa digunakan dalam situasi bencana juga disediakan di sejumlah venue.
Sebelum festival utama dimulai, acara pendahuluan telah digelar pada Minggu malam. Para penari kemudian akan memenuhi berbagai lokasi di Kota Kochi hingga festival berakhir pada Rabu.
Sc : KN








